Glorifikasi

Malam ini, saya menonton kanal berita CNN di televisi saya. Topik yang sedang dibahas adalah seputar Hari Guru, serta pemaknaannya. Sebagaimana sedang viral di jagat dunia maya, Pak Nadiem Makarim melalui pidatonya berkata (kurang lebih), bahwa beliau tidak bisa menjanjikan banyak hal: jangan menunggu dari atas, perubahan dimulai dan diakhiri di / oleh guru. Selebihnya, para panelis dipandu oleh seorang moderator melanjutkan diskusinya akan pemaknaan semangat tersebut. Tentu saja, isu guru honorer kembali diangkat: seolah-olah menjadi lagu wajib yang (sayangnya) hanya berhenti di diskusi-diskusi saja.

Sembari menyimak pembicaraan mereka, istri saya yang sedang scrolling Twitter, berhenti pada sebuah utas: seorang mahasiswa ITB meninggal tidak lama (dua bulan (?)) setelah wisuda. Ditarik kembali ke belakang hingga seusai tugas akhir, kesimpulan yang dapat diambil: mahasiswa ini ada bakat / kelainan (lahir) darah Thalassemia. Kondisi ini baru terdeteksi begitu kesehatannya berangsur-angsur memburuk selesai mengerjakan tugas akhir, dan yah memang pengerjaan tugas akhir tersebut-lah yang (menurut utas dari almarhum) diyakini semakin membebani dirinya,

Hingga meninggal.

Lewat utas Twitternya, almarhum mengaku bahwa dia sempat tidak tidur (mungkin minim sekali - bila sempat mencuri waktu tidur) selama hampir satu minggu berturut-turut - hingga pengumpulan dan sidang tugas akhir. The rest of his story was  then well described, and ultimately his fate was sealed.

Lantas saja, saya teringat akan diri saya. Menjelang akhir 2013, selepas mengerjakan TP-2 (Tugas Pendahuluan edisi 2) Mesin-Mesin Elektrik, dapat dikatakan saya hanya tidur 1.5 jam hingga jam 7 pagi. Selepas mengumpulkan tugas prasyarat praktikum tersebut - sesi kedua, saya pulang ke kosan, tidur, hingga jam 3 sore. Kelelahan? Tentu saja.

Saya beri gambaran:
1. Tulis tangan full + gambar / ilustrasi sepanjang ... 10 - 12 lembar folio bergaris.
2. Tugas diberikan pukul 11 pagi di hari sebelumnya; let's say saya dan teman-teman satu angkatan dikumpulkan oleh asisten praktikum jam 11 pagi di hari Rabu. Maka, tugas ini harus sampai di meja asisten pada pagi hari jam... maksimal jam 8 atau 9 pagi.
3. Saya lupa berapa soal, tetapi setiap soal adalah essay, dan jawaban yang diharapkan (dicontohkan + wajib diikuti) ya... merujuk ke hasil yang saya tulis di poin 1 tadi. 12 lembar folio bergaris. Imagine that.
4. Hal ini berlangsung dua kali dalam satu semester, untuk satu praktikum; ada dua praktikum sejenisini, dus, kurang lebih akan ada 4 sesi bergadang spartan seperti ini. Mind you, this might be emotionally stressed out, rather than intelectually challenged. Apa yang diharapkan dari produk tulisan tangan, dalam waktu yang demikian singkat, dan dibawah bayang-bayang "prasyarat wajib mengikuti sesi praktikum selanjutnya"?

But well, hidup perkuliahan saya jalan terus, dengan sedikit bumbu-bumbu acara kemahasiswaan, dan ekstra percintaan remaja (kini dia - tentu saja - mantan saya: apakabar, qim?). Rasanya sih yaa sudah oke-oke saja + nggak lelah lagi, ya lanjut haha-hehe pagi-sore a la mahasiswa. Lelah2 biasa, ditambah makan yang sebisa mungkin mengikuti aturan gizi baik.

And all was changed on that faithful day, hari Minggu, saya menemani pacar saya servis printer. Coba bawa sana-sini kok tidak membuahkan hasil, hingga akhirnya di BIP - juga tidak membuahkan hasil. Kami menyerah, dia sedikit marah-marah, saya sedikit lelah, yasudahlah beranjak pulang. Membawa-bawa kardus berisikan printer, saat sedang berjalan menuju angkot, tiba-tiba saya merasa dada kiri saya sakit sekali, saya sampai terjatuh.

Sakit, banget. Buru-buru pulang, saya pun masih kesakitan. Dibuat solat duduk bangun tidur, tidak enak sama sekali. Langsung saja saya pulang ke Jakarta, sedikit diolesi balsem, ah mungkin kau jatuh saja pas kemarin-kemarin naik sepeda - tutur papa saya. Memang demikian, sih, tapi kok satu hari dua hari makin sakit saja, akhirnya dokter menyarankan coba dirontgen dulu, mungkinkah ada patah tulang.

Dokter kaget, bukan patah tulang yang ia temukan, melainkan paru-paru kiri saya mengempis.

Dirujuklah saya ke dokter spesialis paru, tes mantoux, tes air liur, dan tes darah. Saya positif TBC, walau alhamdulillaah belum dalam taraf menularkan orang - masih di internal saya saja. Agar paru-paru saya berfungsi, saya pun juga dirujuk fisioterapi. Untuk melegakan hati, dokter berkata bahwa penyakit saya ini masuk dalam program pemerintah: obat ditanggung. Cukup konsul dan fisioterapi saja yang perlu merogoh kocek.

Ya tapi siapa yang nggak shock, ya. Sepanjang 6 bulan, saya wajib disiplin keras minum obat. Urin saya menjadi merah - sebagai efek sampingnya. Obat tablet yang harus diminum pun lumayan mengintimidasi: besar-besar, dan kuantitas hariannya pun banyak.

Belum lagi wanti-wanti, bahwa obat ini harus disiplin diminum setiap harinya, rutin di jam yang diberikan.

Kalau, seizin Allah, saya ingin sembuh.

Memang betul, bahwa sebenarnya penyakit TBC adalah penyakit yang "umum" di Indonesia.Dokter saya kala itu menegaskan "Tidak perlu khawatir, asal disiplin, penyakit ini in syaa Allah dapat disembuhkan. Mayoritas- 70% orang Indonesia sebenarnya sudah terjangkit bakteri ini sepanjang hidupnya.Namun, karena kekebalan tubuh mereka bagus, ya nggak aktif, hingga akhirnya kita ya meninggal normal. Tapi untuk kamu, ya ... kekebalan tubuhnya lagi drop: dan memang se-drop itu sih, sampai kumannya bisa berkembang biak". Toh, jawaban ini tidak membuat saya "puas": tentu ini berarti ada suatu hal yang salah terhadap gaya hidup saya.

Atau, pada cara pikir saya: cara aktualisasi diri saya.

Dengan sedemikian aktivitas perkuliahan saya di tingkat tiga, kemahasiswaan, serta aktivitas percintaan, tingkat kebanggaan saya banyak yang dilandasi atas ukuran yang absurd. Saya senang, bukan karena ilmu yang saya peroleh, atau manfaat yang diperoleh oleh masyarakat sekitar atas program kemahasiswaan kami satu kementrian, ataupun  bukan dari waktu berkualitas yang saya habiskan dengan pacar.

Melainkan, pada taraf apa saya berhasil melewati suatu permasalahan, dibandingkan dengan teman-teman saya. Seberapa lebih sibuk saya dibandingkan dengan pacar saya. How low - worst could I brag on my courses homeworks - over my friends. Seberapa banyak selebaran kemahasiswaan yang saya cetak, atau waktu yang saya curahkan dalam bermalam di himpunan / kabinet mahasiswa.

Am in the constant anxiety, to compare my misery among my circle, and it must be ensured that mine is the "Industry Standard".

"Tuh liat Dito! Sibuk banget! Tapi ya masih sempet kuliah, main, pacaran, dan kemahasiswaan"

Agak salah, nggak, sih?

Betul, bahwa sebagian hal di sekitar kita, memang by default (or by design - although it is not what I wished for) itu berat (atau memberatkan). Tetapi, sejatinya, kita ini tuh tetap ada pada kendali kita yang paling hakiki, nggak, sih? Untuk memprotes, untuk menyadari kapabilitas diri kita, dan tentu saja, menilai parameter keberhasilan kita.

Terutama yang terakhir, sih, karena ini lebih banyak juga bisa diubah oleh si pembuat sistem. Tidak semua hal mudah - perlu dipersulit, dengan dalih berbagai nilai positif lain. Tidak semua hal negatif dapat sirna - dibalut, atau dikalahkan oleh benefit positif - yang sebenarnya sih berbalut glorifikasi. Oh ya, usaha pada arti yang dapat disederhanakan, kan adalah gaya dikali perpindahan. Untuk sebuah usaha yang besar, we could choose between going extra miles, or give some things extra effort.

And no, sometimes extra miles are not optimally achieved by putting extra effort, especially when those effort comes at some costs.

Kilas balik saya terhenti, lalu kembali saya menatap diskusi di televisi, dan mendengar istri saya membacakan utas tersebut hingga usai. Beberapa kali, layar debat menyuguhkan sebuah kalimat "Kondisi zaman sudah berbeda". Hal ini, lebih lanjut, ditimpali oleh istri saya "Aneh, kah? Di masa mental health awareness semakin booming kini, tetapi kok makin banyak ya kita-kita yang merasa nggak sehat?"

Apakah benar, sebagaimana ujar senior-senior kami: "Anak sekarang makin lemah!"

Atau ... "Mereka mah enak dulu, hidupnya simple banget. Masa kita sekarang, semakin banyak informasi, kok malah semakin menekan ya?"

Paradox, ya? Tapi, wajar: sejak ada media sosial, semakin banyak ujung-ujung lancip - alias sekian persen dari massive iceberg teman-teman kita, yang dengan mudahnya dapat kita akses. Mind you, yang tajam-tajam kalau diinjak, emang sakit, kan? Juga enggak bisa dihindari. If you don't believe, go a thousand meter or more below the sea surface, and see the remnants of HMS Titanic. Kita nih hidup dalam lingkungan yang memudahkan kita saling cek antara satu sama lain.

Check and balance in a constant, overwhelming manner, is a constant pressure. Well applied and persistence of a water droplet could turns a rock into a pond. Ini jelas tantangan tersendiri bagi kita, dan bila boleh dibandingkan, is another level of contant threat, as our hunter-gatherer ancestor had experienced millennials ago. Bedanya, ancaman mereka adalah gajah dan hewan-hewan bertaring yang siap melumat fisik kita, nah kalau sekarang ya ... dementor-dementor tak berwujud yang senantiasa - kapan saja  - dimana saja bisa menyedot kebahagiaan kita.

Wise man said that the most prolific thief is comparison. No matter how you had secured anything, every comparison, at some degree, is the thief of joy.

Lebih jauh lagi, pencuri ini punya orang dalem, yang selalu meyakinkan kita bahwa enggak ada apapun yang dicuri; we even been tricked that we could gain more itulah yang glorifikasi lakukan. Ini lebih parah dari berbagai justifikasi yang bisa berbalut judul dan kemasan apapun: glorifaksi mungkin setingkat di bawah iman kita. Or it might be embedded into our faith already?

Pain is inevitable, so does too our suffering. But one must realize that it is not always what it seems deserved, for every gain we seek behind our pain.

Tidak semua "Gua pantes kok dapet penderitaan ini", "Emang gua yang salah kok" perlu dibenarkan. Pada akhirnya, ketika kita tidak kuat lagi, hal-hal ini akan berakhir di "Aahhh baru gitu doang lu! Gua nih dengan segala konsekuensi gua, udah menderita gini gini dan gitu!"

Yuk, be vulnerable to ourself, and to our human being. Bagi kita yang berada di dalam kendali sistem, mari apapun yang bisa dibuat mudah dan sederhana, ya dijadikan. Untuk setiap keluh kesah dari generasi setelah kita, ya kita dengar, dan perlu benar-benar kita mengerti: mereka bukan kita. Hentikan glorifikasi, mulai dari kamu, sekarang. Hentikan tradisi, hentikan perasaan meremehkan kepada generasi di bawah kita.

Mari, kita jadikan pendidikan kita sebagai pendidikan yang berkesinambungan.Wariskan perubahan dan prestasi, bukan kenangan dan selebrasi.

Untuk Alm. Pak Hasyim Subarna, selamat hari pendidikan, pak.

Comments

Popular Posts