Semarang Jilid 1
Sebenarnya, tulisan ini adalah tulisan yang sangat kadaluarsa, mengingat perjalanan saya ke Semarang sudah dua kali, dan terjadi pada kurun waktu dua tahun yang lalu, yakni tahun 2013 dan 2014. Ah tetapi yasudah lah, semangat berbagi tidak akan pernah kadaluarsa *cailah*.
Semarang dapat kita pahami sebagai dua daerah, yakni Kota Semarang dan Kabupaten Semarang. Keduanya serupa tetapi berbeda, yaa kuranglebih seperti Kabupaten Bandung dengan Kota Bandung *enggak menjawab*. Kabupaten Semarang (masih) ada ibukota nya lagi, yakni (eh kota atau apa ya, pokoknya pusat pemerintahannya kali ya) Ungaran. Anak-anak Teknik Tenaga Listrik pasti mahfum bahwa Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban areal Jawa Tengah dan DIY (CMIIW ya) berada di Ungaran, yap itulah ibukota dari Kabupaten Semarang.
Adapun Kota Semarang ndes, adalah yang kita kenal dengan objek wisatanya : Lawang Sewu (In English it means Thousand Doors), Kuil Sam Poo Kong, dan Kota Lama. Universitas Diponegoro, Politeknik Negeri Semarang, Unversitas Negeri Semarang, adalah beberapa dari sekian perguruan tinggi asli Semarang yang turut serta membangun pertumbuhan ilmu pengetahuan bangsa.
Semarang dapat kita pahami sebagai dua daerah, yakni Kota Semarang dan Kabupaten Semarang. Keduanya serupa tetapi berbeda, yaa kuranglebih seperti Kabupaten Bandung dengan Kota Bandung *enggak menjawab*. Kabupaten Semarang (masih) ada ibukota nya lagi, yakni (eh kota atau apa ya, pokoknya pusat pemerintahannya kali ya) Ungaran. Anak-anak Teknik Tenaga Listrik pasti mahfum bahwa Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban areal Jawa Tengah dan DIY (CMIIW ya) berada di Ungaran, yap itulah ibukota dari Kabupaten Semarang.
Adapun Kota Semarang ndes, adalah yang kita kenal dengan objek wisatanya : Lawang Sewu (In English it means Thousand Doors), Kuil Sam Poo Kong, dan Kota Lama. Universitas Diponegoro, Politeknik Negeri Semarang, Unversitas Negeri Semarang, adalah beberapa dari sekian perguruan tinggi asli Semarang yang turut serta membangun pertumbuhan ilmu pengetahuan bangsa.
Politeknik Negeri Semarang
Universitas Negeri Semarang
Semenjak saya emmm kuliah, saya selalu penasaran dengan Semarang. Sebenarnya, bila ditilik lebih jauh lagi, bukankah kita semua akrab dengan slogan "Segera menyambangi kota-kota besar di Indonesia! Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta ...". Apa yang istimewa dari kota Semarang? Lebih-lebih teman saya, sebut saja dr. Dhanes (soon to be doctor ye, aminkan wahai pembaca), selalu berkata kepada saya.
"Piye ndes, kapan kemariii. Nanti gua bawa ke kawasan terkenal di Semarang, namanya Sunan Kuning."
Saya berfikir, karena menyandang nama Sunan, mungkin tempat ini semacam Kampung Arab atau wisata-wisata sejarah-religi gitu kali ya. Padananannya emmm Kampung Arab di Kwitang lah, selain kanan-kiri banyak souvenir-souvenir khas Timur Tengah, menjadi markas-markas beberapa Habib, juga menjajakan sajian khas berselera dari Timur Tengah. Hemmmmm.
Sayangnya, saya salah. Asem ndes, Sunan Kuning rupanya kawasan lokalisasi.
Ojok jajan-jajan ndes, eliing puasa..
Anyway, saya sedikit miris. Di Bandung juga di gerbang pintu masuk "Saritem" juga ada pos polisi dan pondok pesantren "At Taubah".
Whatev, misinformasi tersebut tidak menyurutkan tekad dan niat saya.
Akhirnya di pertengahan tahun 2013, kesempatan emas itu pun datang, pas ketika saya sedang melaksanakan ibadah Kerja Praktek di PLTU Tanjung Jati B, Jepara. Lha kok Jepara? Tunggu dulu, jangan khawatir. Persis di dekat daerah kosan kami, yakni jalan Kalinyamat, terdapat bus goyang cihuy (karena bus ini suka ngebut dan kalau nyalip membuat penumpangnya bergoyang) yang dapat memuaskan hasrat-hasrat kami (ya, tidak hanya saya yang ingin ke Semarang) menuju kota Semarang.
Mumpung Sabtu dan Minggu ada libur, kan, tidaklah kami sia-siakan hari off dari Kerja Praktik tersebut untuk dolan-dolan ke Kota Semarang, melepas penat dan jemu dari Suasana Jepara Kota yang kalau jam tujuh malam sudah sepi. Tak kenal maka tak sayang, berikut saya kenalkan personil "Anti Wacana" grup Kerja Praktek PT TJBPS asli Teknik Tenaga Listrik Cap Gajah :
- Saya sendiri, seorang pemuda tanggung energik yang sering disalahsangka oleh khalayak sebagai remaja SMA.
- Dicil, sebelas dua belas lah dari saya, ukuran tubuhnya yang lebih-lebih kecil dari saya ditambah parasnya yang lebih muda membuat saya terlihat seperti kakaknya. Saya 12 SMA dia 10 SMA.
- Zahrina, walau dia paling muda (1993, kami semua kelahiran 1992), tetapi sosok dan pembawaannya sebagai wanita salehah membuat dia nampak lebih dewasa (baca : tua, sori ya Zah wkwk). Paling mager di antara kita.
- Juan. Namanya mirip pesepakbola gaek asal Inggris, tetapi pemuda Batak ini berjiwa petualang dan polos - terlepas dari rupa pembawaannya yang sering disalahartikan sebagai tukang pukul.
- Dito, bukan ini bukan Dito saya, ada satu Dito lagi. Aremania ini memiliki keahlian khusus yakni mudah tertidur di mana saja dan dalam situasi apa saja.
We're ready to go.
Setelah emmm sekitar satu jam - an menaiki bis cihuy, kami sampai di Terminal Terboyo. Daerah yang sangat - sangat asing bagi kami. Jangan khawatir, tips dalam travelling adalah berani bertanya. Malu bertanya, sesat di jalan. Siapa tahu dapat kenalan. Kami langsung diarahkan oleh bapak-bapak baik untuk menaiki suatu bus, dengan tujuan pusat kota Semarang. Kami polos, jadi kami iya-iya saja. Alhamdulillaah, setelah sekian jam perjalanan, kami sampai di ... daerah saya lupa di mana. Pokoknya daerah itu dekat dengan rumah kawan kami native Semarang, yakni Mbah Nabil. Alhamdulillaah, Nabil menuntun kami ke suatu rumah, dan dari situ kami semua diberikan pinjaman tunggangan motor. Sungguh baik memang Nabil. Saya membonceng Dito, Dicil membonceng Zahrina, dan Juan membonceng Nabil. Kami set tujuan pertama ke arah yang paling favorit, yakni Klenteng Sam Poo Kong.
Klenteng Sam Poo Kong merupakan salah satu situs suci bagi pemeluk agama Kong Hu Chu, tetapi sekaligus juga menjadi tempat wisata yang menarik bagi warga Semarang dan sekitarnya. Suasana Klenteng ini didominasi oleh warna merah, khas oriental mandarin sekali. Menurut yang saya baca, agama Kong Hu Chu memang mengkultuskan orang-orang hebat yang pernah ada, sehingga jangan heran apabila ada banyak patung di dalam situs Sam Poo Kong ini.
Trust me I'm an engineer!
Beliau pasti begawan ekonomi.
Selidik punya selidik, rupanya dua sosok ini merupakan sosok yang berpengaruh! Semacam pembesar atau petinggi dari Yayasan Sam Poo Kong, yayasan yang mengelola situs ini. Pantas saja ya ...
Masih ada beberapa patung lagii :
"Kamu kapan lulus sarjana?"
"Sudah menentukan topik skripsi?"
Sebenarnya, apabila kita mengaku sebagai pemeluk agama Kong Hu Chu, kami dapat memasuki suatu ruangan khusus untuk sembahyang, juga dapat meemasuki suatu bagian klenteng yang memang khusus untuk sembahyang. Sayangnya, tidak mungkin bagi Zahrina untuk mengaku sebagai seorang pemeluk .... Zahrina memang sosok mamah solehah sejati :') walhasil, kami tidak diperbolehkan (dan tidak mengaku juga) untuk memasuki ruangan tersebut, dan dikenakan mahar sejumlah tiga puluh ribu untuk memasuki suatu area pelataran khusus. Tidak apa-apa, tidak apa-apa, anggap saja retribusi supaya para peziarah dapat lebih nyaman lagi o:)
Haik!
Subhanallaah.
Menjelang kunjungan kami usai, teringatlah janji bahwa saya harus mengabari dr. Dhanes, si sesat yang menganjurkan saya mampir Sunan Kuning. dr. Dhanes bukan native Semarang, tetapi kebetulan yang bersangkutan sedang menempuh kuliah kedokteran di Undip. Sebagai sobat SMA yang kental pisan, masak iya saya tidak menghubungi doski, telepon diangkat, doski pun langsung meluncur dari kosannya di Tembalang menuju klenteng Sam Poo Kong.
dr. Dhanes (kiri) dan Ir. Dito (kanan).
Makam Kyai?
Aha, ada yang menarik. Di tengah situs agama Kong Hu Chu ini, mengapa ada makam Mbah Kyai Nyai Tumpeng? Siapakah sosok almarhum(ah?) ini? Saya tidak sempat bertanya kepada penjaga sekitar ... mungkin sampean bisa googling saja hehe.
Lelahkah kami mengelilingi Sam Poo Kong? Jelas tidak! Energi muda adalah energi kami, jiwa muda adalah jiwa kami, perut anak muda pun ... perut kami. Jelas kelaparan, tetapi sebelum lapar tentu kami harus shalat dulu.SMAN 3 Semarang menjadi lokasi tujuan kami. Di dekat SMAN 3 Semarang ada semacam es campur yang pokoke maknyosss, sayang saya lupa apa namanya wkwk. Dasar memang Zahrina sebagai sosok yang keibuan dan (nampak) lebih dewasa, porsi makannya mengalahkan saya dan Dicil. Juan dan Dito sih ya .... memang ... cowok normal dengan porsi makan yang lebih dari normal. Hahaha.
Lelahkah kami mengelilingi Sam Poo Kong? Jelas tidak! Energi muda adalah energi kami, jiwa muda adalah jiwa kami, perut anak muda pun ... perut kami. Jelas kelaparan, tetapi sebelum lapar tentu kami harus shalat dulu.SMAN 3 Semarang menjadi lokasi tujuan kami. Di dekat SMAN 3 Semarang ada semacam es campur yang pokoke maknyosss, sayang saya lupa apa namanya wkwk. Dasar memang Zahrina sebagai sosok yang keibuan dan (nampak) lebih dewasa, porsi makannya mengalahkan saya dan Dicil. Juan dan Dito sih ya .... memang ... cowok normal dengan porsi makan yang lebih dari normal. Hahaha.
SMAN 3 Semarang adalah salah satu SMA Negeri terbaik di Indonesia. Bagaimana tidak, alumninya beragam betul, mulai dari Ibu Sri Mulyani, hingga Pak Bondan Winarno pokoke maknyosss. Mungkin, kualitas tersebut dimulai dari corak arsitektur bangunannya yang wah luar biasa mewah. Saya pikir ini sudah seperti kantor walikota saja ... Apalagi tiang bendera nya yang di tengah itu. Tetapi, konon, menurut tutur kata Mbah Nabil, tiang bendera ini memiliki cerita yang sedikit menyeramkan ... konon beberapa kali tiang bendera ini "Meminta korban" karena orang-orang yang memanjat tiang ini demi menurunkan bendera (entah, selalu ada masalah! Kadang tidak bisa diturunkan dengan pengerek). Karena seringnya korban jatuh, maka menurut Nabil, kini dilarang keras memanjat tiang bendera ini.
Untuk membasuh kisah horror tadi, kami memutuskan untuk meminta ampunan kepada Allah, ke Masjid Agung Jawa Tengah.
Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) adalah tujuan kami. Konon MAJT memiliki pesona yang indah betul. Memiliki payung-payung di pelatarannya yang dapat membuka dan menutup secara otomatis, persis seperti di Masjid Nabawi. Pelatarannya pun sangat luas. Interiornya pun demikian. Sayang sekali .... baterai saya habis, jadi hanya sempat memfoto interiornya saja.
Dalam kesunyian ini, Engkau terasa demikian dekat
Salah satu yang menarik dari MAJT adalah arsitekturnya yang unik. Menurut saya sih ada perpaduan antara Jawa, dengan .... Eropa kali ya? Atau Timur Tengah ala ala Maroko ... saya kurang paham, tetapi atmosfernya cukup beda. Coba googling aja kali yeee hehe.
Spiritual terisi (Juan puas tidur dan berjalan-jalan mengelilingi isi masjid, tentu saja sebagai Kristen yang taat dia tidak ikut kami shalat Maghrib, oh ya Dito tentu saja tidur juga), saya kini beralih membonceng dr. Dhanes, dan bersama rekan-rekan anti wacana melanjutkan petualangan kami menuju .... daerah kota! Kami mengunjungi daerah kota lama Semarang. Maksud hati sih melihat suasana oldies sekaligus menikmati satu atau dua pengganan yang menarik untuk dikudap.
Setiap daerah memiliki kota lama nya masing-masing. Jakarta memiliki kawasan Kota Tua, Bandung memiliki jalan Braga, dan Semarang dengan .... kawasan Kota Lama nya. Ketiganya memberikan pengalaman yang berbeda, suasana yang berbeda, atmosfer yang berbeda, tapi ... romantisme yang sama. Kami seolah-olah terjebak zaman dikala meneer-meneer masih asyik bercumbu rayu dengan mesteer-mesteer, lalu tersebutlah bendoro-bendoro yang wara-wiri bermasygul ria, sementara kaum-kaum sahaja hanya mampu melihat mengintip aktivitas mereka semua sembari iri.
Tidak, kami tidak bermasygul ria. Astaghfirullaah, tetapi kurang lebih itulah yang saya amati.
Muda-mudi, ada yang asyik mengapresiasi sejarah, mengapresiasi arsitektur klasik yang mungkin takkan pernah terulang lagi, atau asyik mengapresiasi diri mereka sendiri. Kala itu selfie sepertinya belum terlalu marak. Sedikit sekali kami menemui tongsis bertebaran, yang sering sih tongbro alias Tolong dong bro (fotoin). Hahaha.
Maaf, lagi-lagi karena larut dalam suasana Kota Lama, saya tidak sempat berasyik foto-foto ria. Lagipula, kala itu, hujan menambah syahdu perjalanan kami (takut basah sih kamera nya sebenarnya), sehingga momen-momen indah yang kami saksikan kami putuskan cukup ditangkap dengan mata saja, disimpan baik-baik di dalam kenangan masa muda masing-masing. Mungkin sembari asyik berfantasi. Dicil mungkin membayangkan seandainya dia disini dengan pacarnya yang sayangnya lokasi KP nya AKAP (Antar Kota Antar Provinsi duuh bro) dengan dirinya saat ini. Zahrina mungkin membayangkan dengan suami nya (yang masih di masa depan, semangat Zah!), Nabil membayangikan masa kecil bersama ayah bunda bermain-main di Kota Lama, Juan mungkin memikirkan kapan dirinya pindah merumput dari Chelsea ke PSIS Semarang, dan sebagainya.
dr. Dhanes mungkin membayangkan dirinya menjadi personel Serempet Gudal.
Saya? Saya membayangkan kenapa beberapa bulan yang lalu (2013, red, haha masa-masa galau itu memang kalau dipikir-pikir sekarang lucu juga) saya diputusin.
Tetapi, dari tidak terlalu jauh, dari suatu balai (balai kota? balai pertemuan?) di areal Kota Lama, saya mendengar irama yang sangat syahdu. Aduhai, mirip kesenian Gambang Kromong Betawi yang sangat saya cintai. Tidak mungkin, batin hati saya. Ini Semarang, bukan Condet. Tetapi saya tidak salah dengar. Semakin saya cermati, cengkok dan aromanya mirip, tetapi sentuhan nya demikian khas. Apakah itu?
Ah, itulah Gambang Semarang. Sepertinya dibawakan oleh GSAC alias Gambang Semarang Art Company.
Set lengkap Gambang Semarang
Saya langsung jatuh hati, membuat rindu seketika dan selalu menyergap manakala pikiran ini teringak akan kota Semarang. Iramanya merdu betul ... jadi Gambang Semarang kurang lebih sama dengan Gambang Kromong, atau mungkin bahkan mirip ya? Tetapi, dapat kita lihat perbedaannya adalah pada alat musik pentatonis yang menggunakan logam. Di Gambang Kromong ... menggunakan Kromong, logam-logam nya dibentuk bundar-bundar seperti yang dipakai abang-abang es nong-nong. Nah Gambang Semarang ini? Logam-logam nya berbentuk bilah, seperti saron.
Whatev, merdu.
Sepanjang malam di Kota Lama Semarang, pikiran saya tidak bisa berhenti dari membayangkan kapan yah bertemu mereka lagi.
Malam ini ditutup dengan Zahrina Dito Juan dan Karina menginap di rumah sodaranya Nabil, sementara saya menginap di kosan nya dr. Dhanes.
------------
PAGI HARI. Karena ini hari Minggu, besoknya hari Senen! Kami tidak ingin membuang waktu lama dan lekas melanjutkan petualangan sebelum kami harus kembali ke PLTU. Lawang Sewu jelas menjadi tujuan akhir kami. Mengapa kami tidak mengunjunginya malam-malam? Ah sederhana, malam waktunya istirahat *padahal takut*.
Oh ya, sebelumnya, saya dolan-dolan ke kampusnya dr. Dhanes, tidak lain dan tidak bukan adalah Undip.
Teknik elektro
Bersama Pangeran Diponegoro, saya siap bertarung melawan hawa nafsu demi teteh di masa depan
Lawang Sewu, bahasa Inggris nya adalah thousand doors (oh ya dr. Dhanes juga memiliki band musik dengan nama seperti ini. Cool ya.... padahal mah kalau dibahasa Jawa kan nama nya jadi Lawang Sewu wkwk sok2an emang doi). Lawang Sewu kini dikelola oleh PT KAI, sepertinya dulunya sih merupakan kantor dari perusahaan yang bersangkutan. Kini, gedung ini (pasca pemugaran) menjadi objek wisata, pre wedding, serta objek uji nyali (serius, konon kalau datang di malam hari ada paket wisata seperti ini). Kami? Cukup puas lah untuk sekedar berwisata.
Dinamai Lawang Sewu jelas sih ya karena jumlah pintu nya yang lumayan banyak. Padahal kalau saya hitung-hitung sih, tidak sampai seribu. Memang, masyarakat kita suka menggeneralisir sekedar supaya mudah diingat saja (contoh : kaki seribu). Tapi, pintunya emang banyak sih ... Oh ya, di dalam Lawang Sewu kini juga diisi sebagai museum sejarah perkeretaapian Indonesia. Lumayan menarik .
Bagian atas dari Lawang Sewu ... untuk apakah tempat ini dahulunya?
Tempat bermain bulu tangkis?
Wastafel dari zaman Belanda? Yang jelas sepertinya asli Belanda. Merek ini sekarang sepertinya sudah tidak ada lagi.
Momen seperti apa yang jam ini terakhir tangkap?
Peta DAOP 7 Madiun
Bagus yaaaa.
Lawang Sewu distorted.
Sisi luar dari Lawang Sewu.
Anti Wacana berpose ala ala boyband wkwk.
"Zah, ayo lompat!"
"Yah aku ngga bisa aku jagain kamu aja ya.."
"Dit ayo lompat!"
"Ju kamu jangan diam aja aku udah tinggi banget ini."
Setelah puas kiter-kiter, karena fisik yang sudah lumayan lelah ditambah besok Senen nya harus kerja rodi (lagi) di PLTU, kami memutuskan untuk naik travel ... Day Trans. Wow, ada Day Trans rupanya. Perjalanan pulang dengan bis cihuy alhamdulillaah tidak perlu kami rasakan kembali ... tahu-tahu kami sudah diturunkan di Jepara, di daerah kanal.
Terimakasih Semarang! Terimakasih Nabil dan dr. Dhanes! Akankah saya mengunjungi Semarang lagi? Jawabannya adalah ....
BERSAMBUNG ....


























Comments
Post a Comment