Habis lulus kamu mau ngapain?

Sehabis lulus, saya mau jadi manten.
  1. Menikah merupakan sunnah Rasulullah.
  2. Menikah mendapatkan teman petualangan hidup yang paling andal.
  3. Menikah merupakan ibadah.
  4. Menikah merupakan fitrah - tidak bisa ditawar-tawar.
  5. Menikah membuka pintu rezeki.
  6. Menikah menyehatkan.

Tetapi saya sadar bahwa dengan rupa diri saya yang sekarang.
  1. Belum ada calon.
  2. Belum ada penghasilan.
  3. Belum ada pembuktian hidup.
    1. Belum ada pembuktian gelar sarjana teknik.
    2. Belum ada karya nyata.
  4. Belum bisa nyetir motor.
  5. Belum bisa nyetir mobil.
  6. Belum siap batin.

Dari semua belum - belum itu, kemudian saya kulminasikan menuju dua step langkah yang paling nyata.
  1. Mencari sekolah ke luar negeri, ambil beasiswa, sebagian ditabung, sebagian buat hidup.
  2. Mencari kerja.

Keduanya tentu diiringi dengan sambil - sambil sebagai berikut :
  1. Belajar setir motor.
  2. Belajar setir mobil.
  3. Belajar agama.
  4. Belajar mengendalikan emosi dan hawa nafsu.
  5. Belajar keilmuan keprofesian elektroteknik.
  6. Belajar manajemen hidup.
  7. Belajar IELTS.

Skip - skip - skip, awalnya saya memutuskan pilihan pertama. Mencari sekolah ke luar negeri, sambil cari beasiswa. Supaya tidak malu (malu-in), saya sambil nyambi. Nyambi magang (berniat) sampingan di suatu BUMN, sebut saja PT. Len Industri. Kerjanya toh enak (walau kadang ada lembur, walau kerja 8 - 5), dan menambah ilmu keelektroteknikan saya juga. Terutama sih, ilmu elektronika, yang saya sebagai lulusan Teknik Tenaga Listrik Cap Gajah merasa sangat kurang (ayolah ngaku..).

Panjang cerita menjadi singkat, saya menyadari bahwa bapak dan ibu saya mulai menua. Keluarga besar saya juga demikian, lebih - lebih kebanyakan masih SMA - kuliah. Saya merasa terpanggil untuk bertanggungjawab. Selain itu, semakin saya bekerja, semakin saya sadar bahwa bukan ilmu bangku kuliah yang saat ini saya butuhkan, melainkan ilmu kubikel industri. Saya baru sadar ketika dari perusahaan saya melakukan suatu kunjungan ke kampus Cap Gajah, seorang professor dengan keheranan bertanya - tanya.

"Oh algoritma ini bisa diimplementasikan hanya dengan satu mikrochip saja?"

Men, watir. Professor euy. Yang dulunya saya sangat pandang tinggi, kini mulai saya sadari.

"Sebenarnya kalau saya jadi praktisi industri yang handal, bisa juga toh kami berdiri seimbang."
"Apa jangan - jangan salah satu penyebab mangkraknya kemajuan teknologi di Indonesia karena tidak ada-nya link antara industri dengan institusi pendidikan."
"Jadi sebenarnya mengapa saya harus sekolah cepat-cepat?"

Toh, selama ini saya sudah sekolah selama (6+3+3+4 = ) 16 tahun. Men, untuk apa sebenarnya saya sekolah lama-lama 16 tahun, untuk di mana saya terapkan ilmu - ilmu saya?

Jawabnya menurut hemat saya, ada di industri. Ada di dunia nyata. Ada di tempat berkerja. Maka dari itulah, akhirnya saya banting stir, dan mulailah saya mencari tempat kerja sungguhan. Kebetulan sekali (sayangnya) di tempat magang saya saat ini tidak ada lowongan. Tetapi saya terlanjur jatuh hati pada kekompleksan ilmu elektronika - yang menurut hemat saya menjadi jantung dari setiap teknologi modern masa kini. Sehinggalah, saya mencari beberapa tempat bekerja, yang (sebisa) mungkin berkenaan dengan minat, dan atau paling tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya sebagai sarjana teknik tenaga listrik.

Sekolah lagi, tunda dulu lah, insya Allah tidak ditunda selamanya, hanya beberapa saat. Jadi selang-seling : sekolah (16 tahun) - kerja - sekolah - kerja - ...... seperti itu, dengan begitu mungkin (ya, mungkin), saya dapat langsung mengamalkan ilmu saya di dunia kerja, lalu saat saya berkerja saya menemui probelamtika, harus disekolahkan lagi dicari teori dan solusinya lewat kacamata akademik, dan lalu .. kembali lah lagi ke dunia kerja. Diamalkan. Hingga maksimal ....

Secara kronikel pencarian kerja (dan disusun ulang pula untuk kemudahan tutur kata cerita ini), berikut adalah perusahaan yang saya lamar.

  1. PT. Farpoint Prima
  2. PT. Saka Energi Indonesia
  3. Schlumberger
  4. PT. Mass Rapid Transit Jakarta
  5. PT. PLN (Persero)
  6. PT. GMF AeroAsia

So here it goes ... sedikit ya? Alhamdulillaah saya masih dianugerahi keteguhan hati dan sikap oleh Allah Yang Maha Kuasa untuk menolak mendaftar berkarir di luar bidang yang saya minati dan yang sesuai dengan keprofesian saya. Bagaimana pertanggungjawaban saya terhadap pemerintah Indonesia yang sudah secara spesifik mendadani saya untuk kuliah di Teknik Tenaga Listrik? Yah ... yasudah, perdebatan selalu ada ..

PT. Farpoint Prima.
Di benak saya, mendaftar perusahaan real estate developer adalah menjadi real engineer. Benak saya selalu mengatakan bahwa real engineer adalah yang membangun gedung bertingkat (salahkan permainan tower block yang beken di masa-masa SMA). Hasil saya googling sana-sini, rupanya perusahaan ini satu induk dalam nama Gunung Sewu Group. Telisik punya telisik, grup korporasi ini menghasilkan salah satu produk yang sudah tidak asing lagi .... Sunpride! Pisang! Yap, apa hubungannya antara pengembang real estate dengan pisang, tentu masih menjadi misteri bagi saya. Untuk menambah rasa heran anda, Gunung Sewu Group juga raksasa korporasi di balik .... permen Yupi. Nais.

Yang jelas, perusahaan ini sepertinya cukup besar, dan memiliki sejarah yang panjang (baik Gunung Sewu Group maupun PT. Farpoint Prima). Portofolio yang sudah ditangani oleh perusahaan ini cukup bagus : Verde, Harco Plaza, Bekasi Square, Citi Square, Sequis Tower, dan sebagainya, membuat saya mantap menjatuhkan pilihan karir pada perusahaan ini. Toh bapak saya pernah bilang "Menangani instalasi listrik dalam bangunan perlu perhitungan cermat yang tantangannya menarik dan berbeda ketimbang kau mendesain saluran transmisi biasa." Lagipula, sekarang zamannya green building. Mungkin menarik bagi saya untuk mengembangkan keahlian ketenagalistrikan saya - yang saya yakin pasti unique dan vital dalam rangka mengembangkan green building.

Program perekrutannya bernama GREMP. Graduate Engineering Management Program. Sepertinya sekarang masih buka. Cukup kirimkan CV terlampir foto pada email di laman berikut ini. Lalu tunggu pengumumannya. Untuk saya? Saya kandas di .... tahapan ini. Tidak pernah dipanggil hingga bukaan gelombang GREMP selanjutnya. Hahahaaha.

PT. Saka Energi Indonesia

PT. Saka Energi Indonesia merupakan anak perusahaan dari PT. PGN. Kita tahu PT. PGN bergerak di lini bisnis apa, dan PT. Saka Energi Indonesia pun bergerak di lini bisnis yang sama, lebih spesifik lagi di bidang upstream dari bisnis gas yang PT. PGN jalankan (migas - kebanyakan gas sih kali ya secara namanya Perusahaan Gas Negara). Sedikit curhat, sebenarnya saya tidak terlalu greng dengan industri-industri migas. Entahlah, saya memang aneh. Pikiran kolot saya selalu berpikir bahwa gas dan minyak akan habis (walau saya pun tahu bahwa ada banyak metode baru dan canggih untuk terus - terus - menerus mengorek-ngorek sumber migas ini). Bukan pula karena saya pro green energy. Untuk green energy, menurut hemat saya sih Indonesia masih nanti dulu lah .. lebih baik fokus dulu menggali apa yang ada, elektrifikasi negara ini hingga rasio yang  baik, tingkatkan kesejahteraan, barulah benar-benar fokus di green energy.

Entahlah, toh tetapi saya tetap mengirim aplikasi saya untuk PT. Saka Energi Indonesia. Programnya bernama Saka Graduate Program. SGP. Sego Pecel. Bidang project manajement. Saya kurang faham mengapa mendaftar ini alih-alih facility engineering yang sebenarnya lebih sesuai dengan latar belakang saya. Mungkin karena ingin bekerja di Jakarta. Mungkin karena .... entah saya tidak paham. Hikmah nya yang jelas, saya tidak mendapatkan panggilan untuk mengikuti psikotes. Hingga sekarang. Memang, Tuhan membalas kegundahan hambaNya dengan jalan yang macam-macam.

Schlumberger
Saya juga bingung mengapa mendaftar ini... sama gundahnya dengan mendaftar PT. Saka Energi Indonesia, lebih-lebih SLB masuk dalam daftar "Kalau Bisa Nggak Usah Daftar Deh", karena satu dan lain hal. Alhamdulillaah, Allah lagi-lagi menjawab kegundahan saya. Saya gugur di tahapan tes bahasa enggress.

PT. Mass Rapit Transit Jakarta
Alias yang berada dibalik penggusuran Stadion Lebak Bulus, Terminal Lebak Bulus, yang memacetkan Jalan Fatmawati, dan menjadi buah bibir di seluruh warga Jakarta (dan pendatang) "Kapan jadinya ya? Bakal jadi apa enggak ya?". Satu dari tiga perusahaan yang saya incar-incar (dari senarai di atas). Alasannya sederhana .... karena transportasi publik menjadi salah satu passion saya. Salah satu mimpi saya untuk kemajuan Indonesia adalah penduduknya menggunakan transportasi publik. Bergerak bersama memajukan bangsa dengan bergerak bersama-sama setiap harinya menggunakan transportasi publik. Nais pisan. Apalagi ilmu "Kereta listrik" ini salah satu menu utama yang sering disinggung-singgung selama perkuliahan Teknik Tenaga Listrik saya di kampus Cap Gajah.

Apalagi ini Jakarta, men. Pride of Jakartan memanggil, kapan lagi dapat pekerjaan yang benar-benar berurusan langsung dengan membenahi kota asal kalian? Apalagi .. Jakarta, tahu lah ya elastisitas macetnya luar biasa. Harus segera diurai, dan tidak mungkin tidak. Penggunaan kendaraan pribadi benar-benar harus dikurangi dan atau diefisienkan semaksimal mungkin. MRT menurut saya sih tepat. Panjang kajiannya, tapi yasudah terima sajalah tepat gitu.

Salah satu benak bayangan real engineer adalah berkerja di tempat yang memroduksi/mengoperasikan/merawat kendaraan bergerak. Ini lebih jauh lebih awal dari benak real engineer yang membangun gedung bertingkat. Umur lima tahun mungkin, mainan saya adalah pesawat-pesawatan dan mobil-mobilan.

Sayang beribu sayang, kembali lagi, perjuangan saya menuju Jakarta MRT ini terhenti di sebatas mengirimkan CV saja ..... Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untuk hambaNya :')

PT. PLN (Persero)

Nah ini dia. Salah satu definisi real engineer semenjak masuk prodi Teknik Tenaga Listrik Cap Gajah. Bekerja di PLN, melistriki seluruh Indonesia. Gambaran ini menjadi-jadi semakin kuat semenjak saya melaksanakan ibadah kerja praktek (plus pelesir ke Karimun Jawa ups) di PLTU Tanjung Jati B, yang dioperasikan oleh PT. TJB Power Services. Mantap benar, melihat cerobong-cerobong PLTU tinggi-tinggi, melihat boiler-boiler raksasa, mengendalikan nasib ratusan MW dibalik meja kendali PLTU (dan sembari menonton Liga Champion - setidaknya itu yang saya amati di control room pada saat pemadaman PLTU darurrat). Datang pagi, berganti coverall, memerika seluruh PLTU yang besar-besar Masya Allah. Mengecek pula gangguan di Gardu Induk. Lalu dapat pulang sore mereguk kembali sisa kopi pagi tadi, dan berkata penuh bangga "Besok kita lanjutkan lagi gaes."

Cool. Pisan.

Tidak saya sia-siakan kesempatan yang diberikan oleh CDC FT UI ketika mengumumkan rekrutmen khusus direct shopping lokasi Jakarta untuk PT. PLN Persero. FYI, ada perbedaan antara rekrutmen khusus dengan rekrutmen umum. Rekrutmen khusus, seperti namanya, hanya ditujukan khusus luulusan universitas tertentu (Alhamdulillaah Cap Gajah masih dipercaya masuk dalam daftar "tertentu" itu). Tahapan seleksinya dikurangi dua, yakni tidak ada tes bahasa inggris dan tes akademik (alias pelajaran-pelajaran mata kuliah kita). Wow. Yah karena saya sudah mencapai tahapan yang cukup jauh, maka seleksi ini saya detailkan saja ya sebagai berikut.

Seleksi berkas.
Standar, dokumen-dokumen seperti CV, kopi transkrip dan ijazah, dan foto (warna latar bebas). Dapat dikumpulkan langsung ke CDC FT UI, atau CDC FT UGM, atau diemailkan ke salah satu dari dua lokasi tersebut. Perhatikan bahwa bila kita mengirim berkas ke CDC FT UI, maka lokasi seleksi dari awal sampai akhir akan dilaksanakan di Jakarta. Kalau di UGM ya di Yogyakarta ya, bukan di Medan.

Seleksi GAT alisas General Aptitude Test.
Tes nya sangat sederhana, yaaa kisaran tes-tes IQ begitu lah. Saya duduk dekat dengan teman saya bernama Paribo. Kami cukup pede dengan kisaran IQ kami yang In syaa Allah sedikit lebih baik dari lumba-lumba. Soal-soal seperti itu pun bukan masalah lah karena kami rajin mengisi TTS dan kuis-kuis semasa kuliah dulu. Sesuai prediksi, sorenya diumumkan, alhamdulillaah kami lolos. IQ kami terbukti cukup cerdas untuk mamalia ukuran lumba-lumba. Tes pagi hari, pengumuman sore hari, besoknya langsung psikotest.

Seleksi Psikotest.
Tahun lalu saya persis gugur di tahapan seleksi ini. Ya, sekitar bulan Maret 2014 saya pernah mencoba tes serupa. Gugur saja kawan-kawan. Merasa dipecundangi, kali ini dengan tekad dan semangat baja saya (lagi-lagi) menggaet Paribo untuk berjuang bersama menunaikan psikotest ini. Kami percaya diri bahwa kami adalah orang yang lurus-lurus, taat agama, dan mengamalkan pancasila. Jiwa kami sehat, sehingga kami percaya diri dapat melalui tes ini.

Sayangnya, tidak semua jiwa sehat, seperti siapapun yang dengan tidak sengaja menempatkan kami duduk di samping blower. Ya, suasana GOR Pertamina Simprug saat itu memang terik, sehingga panitia meletakkan beberapa blower kipas raksasa (seperti yang kita jumpai di Ancol) untuk mendinginkan suasana. Sayangnya, kami terpaksa harus duduk di samping sana. Bayangkan saja hembusan angin dahsyat yang harus kami alami dan kami rasakan. Kertas tes koran kami berterbangan. Kami hampir saja tidak sanggup menggambar pohon saat tes menggamar pohon.
Kami putus asa. "Dot kayanya kita kandas nih." Paribo pesimis, saya pun pesimis tapi mencoba tetap optimis "Sekut jae bo, man jadda wa jadda. Gua nebeng dong sama mamah turunin dimana gitu." Sayangnya Paribo larut dalam kesedihan, dan menolak keinginan saya untuk nebeng. Waktu tunggu  skitar dua minggu.

Seleksi Tes Fisik.
Ajaib. Mukjizat. Allaahuakbar. Alhamdulillaah. Laiknya kaum yang berputus asa lalu diberikan limpahan rahmat, kami bersyukur bukan main. Kipas angin bukanlah penentang takdir Allah apabila telah ditentukan. Kami lolos ke tes fisik. Buat yang penasaran, jadi dalam seleksinya PLN membagi dua tes kesehatan : tes fisik dan tes lab. Tes fisik, benar-benar fisik luar kita yang dicek, mata, berat, dan tinggi badan. Bukan masalah. Saya sebenarnya sempat khawatir apabila harus menunjukkan barang keramat saya, tetapi Paribo membesarkan hati saya "Ah elah dot piyik gitu." Dia belum tahu dahsyatnya keramat saya, dan dia belum tahu takdir macam apa yang akan menimpa kita.

Kami harus bangun pagi-pagi benar dan menerjang Jakarta di Jum'at pagi, hadir fisik jam 6 teng di Lab BioTest Menteng. Pemeriksaan cukup mengantri, panjang, rupanya masih banyak sarjana-sarjana muda yang siap mengabdi melistriki seluruh negeri. Saya salut, terharu, tetapi tetap harus fokus pada giliran saya memberikan yang terbaik pada dokter umum yang akan memeriksa saya. Setelah diukur tinggi dan berat badan, saya menemui Paribo. Sepertinya dia baru saja dicek. "Wah dot, lunas aing. Diobok-obok habis, mana dokter cowoknya agak kemayu gitu." Saya bisa memahami Paribo yang sepertinya nampak shock. Maklum, keramat dia mikroskopis, jelas tak sebanding dari keramat saya yang lebih besar dari bis keramat jati. Tapi saya membesarkan hatinya "Tenang bo, size does not matter, performa yang penting." Walau demikian sih saya takut juga dalam hati, takut dokternya jiper (kalau dokter laki-laki), atau takut terjadi yang tidak-tidak bila dokternya bukan cowok yaitu ..... ... ah sudahlah. Mari kita singkirkan andai-andai tersebut.

Tibalah giliran saya. Saudara-saudara, saya tidak tahu ketiban durian runtuh atau bagaimana, yang memeriksa saya adalah ... dokter wanita. Jreng-jreng. Jangan bayangkan yang tidak-tidak, karena satu-satunya benefit yang saya dapat adalah tidak harus buka celana. Sekian. Sekali lagi, saya khawatir .. ah sudahlah. Tidak apa. Pemeriksaan berjalan mulus, dibilangnya saya cukup sehat, dan tunggu lah sekitar dua minggu lagi.

Seleksi Lab.
Saya lolos. Paribo juga lolos. Puji syukur ke Allah Yang Maha Kuasa. Sayangnya di tahapan ini saya harus gugur karena ... saya sudah menandatangani perjanjian kerja dengan suatu perusahaan. Impian saya pisan. Apakah itu? Tidak lain dan tidak bukan ..

BERSAMBUNG.

Comments

Popular Posts