The Amazing Story of India

Saya dulu sering diceritakan oleh bapak saya: "Nak, pergilah ke India. Banyak hal-hal menarik di sana." Awalnya saya hanya mengernyitkan mata: India? Itu bukannya negara yang orang-orangnya memiliki kegandrungan tertentu terhadap pohon dan tiang listrik? Negara terpadat kedua sedunia? Yang jago-jago komputer dan ada inspektur vijay nya itu kan?

Hingga akhirnya kwartal terakhir 2016, saya semestinya berangkat training ke Bandung, tapi entah karena pesertanya hanya sedikit, jadinya dioper ke jadwal selanjutnya di pertengahan 2017: di India.

Mulailah saya searching2 terhadap negara ini. Malah jadi panik cuy, karena dengar-dengar kotor, kalau makan harus siap-siap kena diare (karena joroknya maksimal), kriminil, ditipu oleh pulisi2 berkumis tebal, dan tentu saja bahasanya gimana inih. Hasil searching pertama saya berbuah langsung nyetok diatab dan berbagai obat2an dasar.

Setelah penyelenggara training ini menjelaskan lokasi percis tempat training, saya merasa... emm tenang? Saya akan training di Chennai, sepertinya salah satu kota besar di India bagian selatan. Tenang karena uppon googling, katanya sih ini salah satu kota yang teraman di India. Sayang juga tapi karena lokasinya nun jauh di bagian Selatan, dan saya nggak punya cukup banyak waktu jalan-jalan (diperkirakan di hari terakhir saya, ummat muslim sak dunia memasuki hari pertama ibadah puasa Ramadhan), jadi saya harus mengubur mimpi dalam-dalam untuk bisa mampir ke Taj Mahal. Apalagi pengin berkunjung ke Kashmir, wisata alam eksostis nan daerah konflik di India bagian Utara.

Yasudahlah, setelah administrasi dari kantor selesai diurus, saya sebenarnya kembali was-was, karena meskapai yang dipilihkan untuk saya adalah ... Malaysia Airlines. Bukan apa-apa, tahun itu tahun 2017, dan kayanya baru dua tahun dari peristiwa jatuhnya Malaysia Airlines dua kali beruntutan. Tapi memang tidak banyak yang melayani penerbangan ke Chennai. Bismillaah saja.

Saya berangkat hari Minggu dinihari dengan rute CGK-KUL-MAA. Menarik, mengapa dinamakan MAA, padahal namanya Chennai International Airport. Rupanya hal ini tidak terlepas dari asal-usul nama Chennai itu sendiri, yang notabene dahulu lebih dikenal dengan nama Madras, nama kota ini diberikan oleh pemerintahan kolonialis Inggris ketika masih bercokol. Eh tapi ada versi lain yang bilang kalau asal katanya dari jaman pedagang / pendakwah Portugal yang sejak dahulu kala sudah bersinggah di situ, ditunjukkan dengan adanya gereja bekas peninggalan mereka, nanti kita lihat di tulisan bawah-bawah.

Walau Indonesia dan Malaysia bertetangga dekat dan dibilang saudara serumpun, jujur saja nih, saya belum pernah berkunjung ke sana sekalipun: ini ya pengalaman pertama saya. 

(maaf ya btw ini saya nulis via HP, jadi bingung rotate nya begimana)


Sebuah coklat. Yea I know

Salah satu pojok di bandara KLIA yang ada banyak display-display pesawat terbang

Tidak banyak yang saya lakukan di KLIA sembari transit sekitar emmm dua jam? Saya hanya jalan-jalan saja, melihat menariknya bahasa Melayu yang 11-12 dengan bahasa Indonesia, dan tentu saja banyak-banyak berzikir dikarenakan masih takut naik Malaysai Airlines, dan umur pernikahan kala itu baru dua bulan-an++.

Sampailah saya akhirnya di MAA. Ini kondisi saya pertama kali terbang ke negara orang sendirian, dengan banyak sekalu asumsi-asumsi awal bakal kena scam, ditipu, dipalakin uangnya, dan segala kengerian lainnya. Oh iya, waktu itu saya sampai kayanya sudah agak siang-an dikit. Sok-sok-an nya saya googling waktu itu sih, mau naik Chennai Metro ah, kayanya deket deh sama hotel.


Ini discreenshot ketia masa-masa wabah, ya, jadi kayaknya tulisannya sih no-service due to lockdown

Tapi namanya juga panik ya cuy, terus kayanya aksara Inggrisnya ga begitu banyak, serta jiper duluan akibat nanya seorang paman passing by yang setengah sotoy dia bilang harus punya kartu langganan dulu (??? is it) akhirnya saya menghabiskan waktu setengah jam-an celingak celinguk bandara-stasiun MRT untuk akhirnya kembali ke paman-paman taksi yang sudah saya tolak dengan pongah. Huhu.

O iya, sebelum keluar dari komplek kedatangan, terlebih dahulu dong saya ke money changer di sana, menukar perbekalan dollar saya dengan rupee. Sebenarnya sih awalnya pengen nuker ketika pas masih di KLIA saja, lagi-lagi karena takut ditipu oleh kawanan inspektur V-Jay. Tapi sayang sekali, entah begimana, penukaran untuk valuta rupee di sana enggak bisa: bisanya cuman dari segala mata uang ke Ringgit, dan dari Ringgit ke berbagai mata uang. Lahkalau saya punyanya Dollar, harus dua kali dong. Akhirnya bismillaah saja deh ketika itu. Alhamdulillaahnya, di bandara Chennai ada money changer, walau si petugasnya rada sengak.

Sampai juga ges di hotel, yakni Clarion Hotel Chennai. Sayang karena kadung bingung, dan lagi-lagi kecemasan berlebihan saya akan situasi dan keamanan lingkungan, saya nggak banyak foto-foto.

Begini kurang lebih view-nya dari google maps. 

Minggu siang itu, saya memutuskan untuk memantau-mantau situasi dan kondisi, ke mall terdekat (Chennai City Centre?? - jalan-jalan dan makan .. saya beli KFC apa McD ya waktu itu), lalu di hotel aja sambil rebahan dan foto situasi sekitar.

Nah ini mall nya gaes.

Senen sampe Jum'at, saya training. Alhamdulillaah, nggak jauh lokasinya dari situ, yakni di Arihant Nitco Park - perusahaan penyedia training ini ngantor . Bener-bener cuman jalan kaki dari hotel saya - btw ini hotel juga saya booking pakai Traveloka. G ada masalah. Satu yang menarik adalah, beliau Islam, jadi alhamdulillaah banget saya ada temen sholat untuk 5 hari mendatang nih.

Pak Althaff nih, pinter bener dah

Kalau saya jelasin training apa, mungkin bakal terlalu serius banget ya hahahaha. Sekilas saja ya. Perusahaan penyedia training saya ini adalah Reliasoft, semacam konsultan dan software developer untuk analisis keandalan, kelas wahid deh. Aslinya asal Amerika, tapi punya beberapa kacab. Ada yang di SG, India, Eropa, dan Cina. Nah, waktu di atas yang saya bilang training di Bandung itu, sebenernya yang ngadain kacab SG, cuman ya satu dan lain hal, jadinya ga jadi deh. Blessing in disguise. Udah gitu, entah begimana, harga training di India ini tuh jauh jauh jauh lebih murah ketimbang kelas di Bandung. Semurah apa, mind you, semurah tiket PP hotel mangan dan biaya training saya di India ini.

Oh ya, saya di sini cuman training sendirian. Jadi awalnya di Singapura dipostpone, terus di Bandung juga dipostpone, nah perusahaan ini kayanya iba deh saya mau training kok ya ga jadi-jadi. Ya udah we, akhirnya jadi aja lah, dan alih-alih memakai venue hotel-hotel gitu, saya ditraining-in di kantornya mereka sendiri. Mungkin ini jadi ya yang bikin murah.

Nah ini dia nih, sepi bener

Menurut pengakuan mereka juga, ini kayak yang pertama gitu kedatengan peserta macam privat saya begini di kantor mereka, plus orang Indonesia, plus dari dunia penerbangan pula. Jadi semacam pokemon langka aja saya hahaha. Oh ya, secara kulit saya kalau di Indonesia hitemnya mah udah nampol, tapi kata mereka alhamdulillaah di sana saya tergolong lumayan putih lho. Alhamdulillaah ya, sebagai balas budi misi diplomasi, saya beli aja produk sabun muka dari India sana, namanya Himalayan Herbals..

May I present you, the neem face wash

Nah karena training nya langsung di kantor nya mereka, means ini kalau jam maksi ya cus maksi dong, enggak pake buffet lunch kalau kayak di hotel-hotel, jadilah di kesempatan ini saya juga ngerasain banget yang namanya tiap siang keliling2 sama konco2 sana dari satu tempat makan ke tempat makan yang lain. Pernah sekali tempo ada kolega yang sambil ngantor sambil ngajak anaknya just because anaknya lagi liburan karena gurunya ada rapat gitu (great minds thinks alike - ya pak bapak ibu-ibu kepsek se-Indonesia???). BTW, karena tentang makanan ini bakal unik banget, akan saya ulas terpisah di bawah-bawah tulisan ini.

Jadi ya suatu waktu saat kita sedang kongkow bareng jam maksi (saya sebenernya curiga, maksinya aga lama, curi2 nih kali ya konco2 ah mumpung ada klien ges harus dijamu sebaik2nya) - ini kayanya di hari Selasa, ada kolega nanya "Dit umurmu berapa?" saya jwab saja wah besok ulang tahun nih, 25 is my age ya. Laangsung saja kawan2 ini pada soraksorak "walaah sama dong kayak si ini (saya gatau ehlupa nama nya)". Yauda we saya iyain aja. Siapa nyana, keesokan harinya disela-sela training, saya disurprisein dong satu kantor. Iya, karyawannya ga banyak sih, but imagine aja everybody stood up singing HBD HBD HBD ya walau ga sampe goyang di taman tapi itu dari OB sampe semacam bos besarnya itu. So terharu guys.


Bisa dilihat kan itu HBD KIRU (nah ingetsaya namanya Kiru. Lupatapi nama panjangnya siapa) DITO.

Ini sama raja terakhir alias salah satu petingginya si kacab India ini

Inilah si birthday boyz

Udah intimate banget dong ya bersama kawan-kawan India ini: bagaimanakah mereka kalau bekerja sehari-hari? Perlu saya akui, kepercayaan diri mereka lumayan tinggi, baik terhadap hal yang mereka ketahui, juga hal-hal yang mungkin mereka masih samar-samar. Kalau dari pengamaan saya sih, kayaknya semacam kombinasi dari penguasaan konsep dasar, ditambah hafalan, plus secara umum lingkungan mereka juga mungkin kompetitif kali ya. Sebenernya sih, tipikal orang Indonesia yang saya kenal beberapa juga seperti ini, mungkin iklim India agak keras juga sih ya - jadinya kebanyakan orang ya kayak gini.


Wah ya anda bayangkan saja, ini iklan pinggir jalan ngajarin pemrograman cuy, bukan pasang susuk kayak di Bekasi

Woee. Ga usah panjang kali lebar sih ya buat kehidupan professionil ini, hehe. Ya begitulah. Kerja kantoran mah 11-12 sebenernya di mana-mana.

Oh iya, intermezzo dulu sebelum saya bagi tulisan selanjutnya ke dalam beberapa segmen..


Lihatlah apa yang saya saksikan di layar kaca saya di hotel, hanyalah iklan biasa saja(?) 

Jinder Mahal rly intimidating me

Nah! Mari kita menjelajah India... dimulai dari fenomena-fenomena sosial (?) Kata orang bijak, apabila ingin mengenal bagaimana masyarakatnya berinteraksi, lihatlah WC nya. Alhamdulillaah, WC kantor saya sih bagus dan bersih (sebenernya ingin saya point out soal desain bidet dan desain waterflush nya yang agak-agak aestetik but let that be in memories saja ya - lebih ke karena ngga sempet foto-foto sih haha). Alih-alih, mari kita lihat saja coretan-coretan tembok, serta selebaran apa saja yang ditempel di sepanjang jalan.

Ini agak paradoks ya sebenernya, terlebih dari segala keparnoan yang sudah saya sampaikan di atas tadi, tapi segala aspek kesehatan itu bener-bener dikemukakan di publik, lho. Take a good look on this advertisement I found on my morning paper..

The only shape you'll be in this summer is round

Sebenernya sih oh ya oke, ini cuman iklan minuman isotonik. Tetap mengandung gula. Tetapi sepanjang jalan saya dari hotel ke kantor, inilah yang saya temui...

Sehat ga sih ges

Sebuah renungan sih ya. Bila nanti pembaca sekalian terus scroll-scroll ke bawah, rasanya bakal mahfum sebenernya mah masalah makanan India tuh mirip-mirip juga kayak kita: ga sehat-sehat amat lah, walau jelas ga separah dari warga negara Amerika Serikat.

Beberapa kilas anda melihat tulisan bahasa Inggris di dinding tersebut, satu hal mungkin: pemilihan bahasa Inggris nya kok semacam ekletik ya, dibandingkan dengan bahasa Inggris yang kita gunakan sehari-hari. Like, Facets??? Rasanya bukan diksi dari bahasa Inggris yang umum kita pakai sehari-hari. Secara facets itu kan sides \/ aspects kali ya? Selain itu, itu di bawahnya ada tulisan don't neglect spiritual health, mental health. Menurut jiwa Indonesia saya sih, kita semacam lebih suka straightforward untuk penggunaan bahasa asing, ya (menunjukkan kita juga enggak se-terbiasa itu dengan bahasa Inggris, beda kayaknya dengan India yang lebih terakulturasi dengan bahasa Inggris). Mungkin jadi spiritual and mental health is important.

Salt, sugar, fat. Ini tuh semacam naluri alamiah rasa yang paling digandrungi oleh leluhur kita. Kita sepakat bahwa kombinasi tiga rasa ini menciptakan citarasa lezat, tetapi alasan sebenarnya mengapa otak kita hard-wired banget dengan tiga rasa ini, ya karena pada awalnya makanan-makanan untuk survival yang paling mudah diketemukan, ya yang berasa ini: daging, dan buah-buahan liar. Mind you, bahwa masa-masa manusia (secara umum) mulai mengenal bercocok tanam (hence, peradaban mulai berkembang), ya lama sekali setelah kita get over with berburu. Kata pakar, selain itu, beberapa makanan yang mudah dicerna, mostly dominan dengan rasa-rasa ini ya, atau hal-hal karbohidrat sederhana.

Nah, mengapa pengingat ini ditemukan di sebuah jalan di India? Apakahini berarti pengingat ini berkaitan erat dengan keseharian masyarakatnya? Semacam, sih, nanti kita akan lihat di section selanjutnya, betapa makanan yang saya icip tuh.... terutama yang manis ya, manissss bet. Yang hearty, beugh bener-bener berasa sedep dan gurih .. lemak sih, hahaha. Ada cerita menarik, langsung dari tangan pertama nih, stay tuned ya.

Mari kita beranjak ke sisi tembok yang lain...

Satu kesan pertama: wah masyarakatnya religius sekali ya, sekaligus memiliki toleransi antar umat beragama yang nomor wahid. Awalnya saya juga berpikir begitu, how wrong I was. Eh mungkin juga begitu sih, tapi yang paling penting dari kehadiran mural jalanan ini: biar ga buang sampah dan buang air sembarangan!!! Bener juga sih, sebuah saran yang harus ditiru kota Bekasi di pasar induk nih. Ini ide yang bagus, sih, daripada foto-foto pejabat yang ditempel ye kan, malah seringnya jadi korban vandalisme.

Oh iya, bicara India, rasanya kurang pas kalau kita enggak membicarakan film-filmnya ya. Berbagai referensi budaya populer sudah saya sampaikan di tulisan tadi, seperti inspektur vijay, godek-godek di tepi taman, atau tiang listrik. Semua ilmu saya tentang film India, rupanya ibarat biota laut yang sudah diidentifikasi oleh ummat manusia: cuman2% aja cuy. See that Jinder Mahal guys above. Oh iya, just wondering, kalian pernah nggak sih lihat iklan film.. Cinta Fitri, atau film Dilan 1990 di selebaran gitu nggak sih. Ibarat demikian, berikut saya sampaikan.. India:

Audio on the way itu apa ya..

Sudah melihat goresan tembok-temboknya, mari kita sightseeing. Tidak seperti daerah di Delhi, Agra, Mumbay, atau Kashmir, rasanya India tempat saya bernaung yakni Chennai ini tidak begitu banyak ya destinasi wisata / tempat-tempat menariknya. Satu hal dulu deh: India bagian selatan ini rerata sehari-harinya berbicar dalam bahasa Tamil. Rupanya, bahasa ini berbeda dengan bahasa India (Hindi) yang berlaku nationwide. Sepintas, hurufnya mirip-mirip, etapi rupanya lumayan beda ding dengan bahasa Hindi.

Apa perbedaan antara bahasa Hindi dengan bahasa Tamil? As exaggerated oleh kawan saya di sana sih "Beda banget itu mah, ibarat kayak bahasa Arab sama bahasa Jepang" Wagelaseh, lebay ah, tapi kemudian saya cari-cari di Wikipedia, rupanya kedua bahasa ini memang datang dari keluarga yang benar-benar berbeda. Hindi berasal dari famili Indo-Eropa (wow such ambitious), sementara bahasa Tamil berasal dari famili Dravidian (yang tapi somehow survivornya ya semacam bahasa Tamil ini saja). Penelusuran lebih lanjut kemudian mencerminkan bahwa bahasa Tamil ini jauh jauh jauh lebih tua daripada bahasa Hindi. Masih menurut lebay-lebayan nya kawan sayaini, bahasa Tamil adalah salah satu bahasa terklasik yang survive dan dipakai terus hingga sekarang. Ibarat kata nih ya, kata-kata audio coming soon itu pernah ada di sekian ratus BC yang lalu, dan maknanya kurang lebih sama.

Wow banget, kawan saya sekaligus instruktur saya memang tidak henti-hentinya membuat #TIL alias Today I Learned sepanjang saya di Chennai.

Tadi di atas disebutkan kan yah bahwa kota Chennai ini awalnya bernama kota "Madras". Sounds really like Portuguese, mungkinkah ada jejak-jejak peninggalan bangsa Portugis di situ, like Kampung Tugu dan Keroncong Tugu yang ada di Jakarta? Yap benar sekali, rupanya ada.. saya menemukannya ketika sedang JJS alias jalan jalan sore. Fakta lanjutan dibalik relik peninggalan Portugis ini bahkan membuat saya ternganga, dan yakin bahwa Chennai ini lumayan underrated untuk destinasi histori maupun religi.

Please, have a look on San Thome Church, atau St.Thomas Cathedral Basilica:

Gereja ini dibangun di atas makamnya almarhum St.Thomas, hence, the name. Anda mungkin berpikir oh oke gereja yang dibangun di atas makam orang saleh / suci, tapi bagi ummat Nasrani, ini jelas bukan sembarangan. 

Let this sink deep: St.Thomas adalah salah satu rasul dari 12 rasul-nya Yesus. Means, mendapatkan ilmu keagamaannya langsung dari Yesus, dan mendakwahkannya langsung, meneruskan-Nya setelah penyaliban.

Yes, St.Thomas is depicted in this famous painting by Leonardo da Vinci, and he made it that far up to India (Kerala - to Mt.Thomas - modern day site near Chennai Airport, and buried beneath the Church)

Social distancing guys..

Kalau anda masih berpikir situs ini masih biasa-biasa aja, resapi lagi bahwa Basilika semacam ini di dunia hanya ada 3: St. Peter's Basilica di Vatikan, dan Santiago de Compostela Cathedral di Spanyol. Wow bangeud.

Pada saat saya ke sini, sih, sore hari yaa. Tidak nampak banyak jemaat yang menghadiri, sepertnya sih hanya beberapa petugasnya / biarawati nya saja.

Tempat ibadah yang lain bagaimana dit? Oh ya tentu: ada pura nggak ya di sini? Turns out, tempat peribadan Hindu di sini namanya kuil (ya iya juga sih ya). Sepanjang jalan, sebenarnya ada banyak kuil-kuil kecil / sedang, tapi hanya ada satu kuil besar di tengah-tengah kota Chennai ini.

Kapaleeshwarar Temple

Ini effortnya sebenernya harus jalan kaki lumayan nih, haha, mana ini difotonya sebenernya di malem pertama Tarawih. Jadi, ceritanya di har terakhir beres training itu, saya sekalian tuh mau jalan-jalan cari shalat Tarawih, tapi ya kurang paham juga mulainya jam berapa, apakah ada agenda ramadhannya, malah saya nyasar ke kuil super besar ini (yang foto malem-malem ya). Terus besoknya tak ulangi lagi deh, pagi2 mampir ke sini. So wow sekali, kayaknya salah satu destinasi utama ummat Hindhu India deh.

Merujuk ke Wikipedia, kuil ini semacam kuil yang paling tua dibangun, dengan gaya arsitektur Dravidian. Kuil ini didedikasikan untuk Dewa Siwa. Legenda, serta sejarahnya, panjang kali lebar banget. Orang India memang ciamik dalam urusan melestarikan sejarah, saya rasa. Saat kemarin saya ke sana, sayang sekali saya tidak berani untuk melihat interior dalamnya. Takut aja, hahaha. Tapi dari luar pun, kita bisa melihat kehebatan arsitekturnya yang luar biasa detail:

Saya mencoba googling lebih lanjut, tetapi rasanya tidak mengetahui makna-makna dari ukiran patung-patung dan wajah-wajah yang terpateri di kuil besar ini. Yang saya tahu adalah, saat memandang kuil ini, di otak saya terdengar lagunya Coldplay yang owah-owah itu. Ditambah suasan peziaroh yang chanting dan ada suara cling cling cling itu, the feels so surreal.

Nah, satu objek yang membuka pandangan saya lagi, adalah saat saya melihat sebuah kuil yang kok arsitekturnya agak beda ini ya:

Ini adalah Kuil Swetambaa, kuil-nya penganut Jainisme.......

Sebelumnya, saya juga tahu bahwa sebenarnya agama Hindu adalah "Ciptaannya" kolonialisme Inggris kepada rakyat India: dasarnya, catatan sejarah para saudagar dan penjelajah yang mengatakan a certain believes of hindustan rivers... hingga masa modern, masyarakat India relatif memiliki Idols nya masing-masing. Namun, untuk keperluan identifikasi (sekaligus mempermudah politisasi - legitimasi Inggris akan India), beberapa kepercayaan - yang sepertinya memang memiliki benang merah ini, dikelompokkan menjadi satu agama: Hindu. Agaknya, nasib serupa pun juga dialami oleh agama Hindu di Indonesia (?), yakni konsep Sang Hyang Widhi sebagai Entitas Tuhan Yang Maha Kuasa, yang lebih emphasized di sini ketimbang di India.

Hmmmm.. kalau ada yang lebih paham, kiranya saya dikoreksi ya.. paragraf di atas sebenarnya adalah intro untuk saya membahas Jainisme, agama yang menginduki kuil yang saya temukan di atas.

Jadi, kembali merujuk ke Wikipedia, Jainisme dimasukkan ke jenis agama yang... antara teis dengan ateis (??), dimana konsep Ketuhanan akan menjadi tidak relevan, manakala seorang manusia berhasil mencapai tahapan transedental menuju keabadian yang ... hakiki? Moksa things... like wow okay, momen #TIL sekali kala itu. Oh ya, itu semua saya ketahui thanks to Google Lens. Hasil foto-foto saya ini kini dipindai olehnya, dan saya jadi tahu deh objek ini tentang apa.. terus sejarahnya jadi nya apa.

Satu hal yang saya sangka-sangka enggak, sih, adalah saya menemukan Masjid di dekat penginapan saya. Enggak cuman satu, beberapa masjid cooy. Nah, spiritualisme Islam saya kebetulan kala itu mengalami momen yang unik, karena untukpertamakalinya saya berdiskusi mendalam dengan seorang Islam ... yang bukan Indonesia. I know right kalau agama Islam ini adalah universal: solat lima waktu, puasa ramadhan, mengaji Al Qur'an, tapi berasa menarik aja, mendalami Islam dari kebudayaan yang benar-benar berbeda.

Masjid pertama kaali saya shalat Maghrib di hari pertama training: sok ide padaahal ini lumayan jauh. Hari-hari selanjutnya akhirnya saya shalat di hotel hahahahaha. Oh ya, yang canggung: ada kotbah nya setelah selesai shalat Maghrib (?) cuman akhirnya saya diem-diem celinguk-celinguk. Oh ya, di dalam komplek masjid ini, ada semacam ... makam keramat. So Indonesian banget.

Trainer saya kebetulan orangnya juga talkative, jadi saya sih enggak malu-malu juga untuk nanya. So pasti yang pertama adalah "Gimana menurutmu tentang Dr. Zakir Naik???" In my surprise, dia bilangnya.. "Hash dia mah provokatif. G ada indah-indahnya dakwah dia mah". Emmm okay pak. Terus abis itu, gantian dia yang nanya "Di kamu, apa ada kah orang2 yang mengeramatkan tempat, makam, atau ritual2 yang aneh2 kaya mandiin benda keramat gitu.."

Ooo ini saya langsung jawab:

Ya... tentu, heh heh heh heh heh (buat yang tau aja yah)

In his argument "Gimana ya dit ya, kita ini kan tuntunannya sudah jelas. Banyak cerita nabi-nabi  di jaman dahulu juga bilang, kalau kita ga boleh mencintai hal-hal melebihi cinta kita kepada Allah, apalagi sampe mengkultuskan hal-halk kayak gitu kan. Emangnya orang mati bisa hidup lagi, dan menjadi media pengabul doa kita kepada Allah? Emangnya dengan kita mengeramatkan suatu benda, benda itu jadi ada sakti-saktinya? Kann itu deket banget ke syirik yagasih dit?"

Mamam, saya juga cuman bisa nanggepin iyes2 aja. Paman ini sangat kritis dan berpegang teguh kepada Islam memang. Saya yang walaupun setuju tapi pembawaannya selengekan ini takut jadinya bahas dan balas macam-macam hahahhaa.

Setelah itu, hampir setiap maksi akhirnya kita membahas tentang keislaman: dia lagi nyiap2in kayak DIY daily activities buat anak2nya mengisi kegiatan di Ramadhan gitu (saya kasiih buku agenda Ramadhan harusnya ya), terus kenapa sih ada ekstremisme, sampe keluh kesah dia bahwa ummat Islam kini udah kayak buih: banyak, tapi ga signifikan. Dalem hati, saya mbatin aja, walah apalagi di India nya antum ya, jadi minoritas. Huhu. Dia juga cerita, kita ni sekarang diperbudak sama hape banget. Coba mbo lihat itu hape, bisa nggak hidup tanpa hape barang sejenak aja? Atau, coba deh pake hapenya yang polifonik. Apa nggak stress? Wow pak, ga heran nih orang pinter banget ilmu Reliabilitynya. Sesi makan biryani kala itu saya kebanyakan merenungnya, alih-alih menyesapi lezzatnya Biryani Jamur + Kacang Mede.

Ini masjid pas saya hari terakhir jalan-jalan sebelum pulang balik  ke airport

Suasana bar jumatan ges

Mading

Ini di masjid di mana gitu ya, saya pas hari Jumat niat mau teraweh itu. Akhirnya pulang dari kuil, di tengah jalan, saya nemu masjid, tapi kok sepi.. g ada aktivitas apa-apa. Yuada saya solat tarawih aja, eh ini tempat wudhu nya unik, di tengahnya ada kolam ikan gitu.

Sudah mengenai religi, memang setiap momen di sini selain menambah aha momen, tidak hentinya lagi-lagi saya mengucap kalimat syukur alhamdulillaah, karena ya.. bisa menginjak di tempat ini.

Sebelum beranjak ke sesi terakhir sebelum sesi penutup (apakah itu???) saya di hari terakhir sebelum keberangkatan, saya berwisata ke Government Museum of Chennai. Ini katanya termasuk museum tertua kedua di India, dan 10 besar museum tertua di dunia. Koleksinya beragam ... kebanyakann sih rasanya tentang sejarah India. Saya coba sampaikan apa yang tersimpan di Google Photos saya ya..

Oh ya, ini harusnya untuk wisatawan mancanegara harusnya berapa rupee gitu mahal lah sekali makan hahaha. Tapi, pas saya masuk ke loketnya, saya langsung dipanggil ke belakang:

Nak, nak, kamu mirip anak saya. Kamu pasti wisman kan, sini saya kasih tiket buat pelajar. Gak usah aneh2 tapi ya, aman we bismillaah.

Dapet deh itu korting, malah jatuhnya lebih murah dari tiket warga lokal. Oh ya, ga ada bagian bismillaah nya itu ya.

Salah satu bangunan asli nya nih, gayanya kayak Pantheon gitu ya

Di depan disambut sama meriam cuy

Ini konon alat penyiksaan jaman dahulu (?)

These weird guys

Senjata-senjata jaman Assassin's Creed??

Ini saya kurang tahu, semacam kendaraan kolosal dewa-dewa..

Intermezzo dulu ya sebelum ke bagian terakhir..

The Central Station. Ini sudah ada sejak 1874an lho

The real Bajaj Bajuri from India!! Perhatikan itu pada semua serba kebuka lho ya kanan dan kiri. Di kiri, bener2 kebuka, ga ada pintunya kaya bajay kita. Di kanannya, itu cuman ada palang. Semriwing banget lah. Oh ya dan jangan salah, keahlian selap-selipnya juaara. Lihat link berikut

Shameless face of me setelah dihajar materi itung-itungan sampe mukok.

Oleh-oleh kaos dan totebag yang saya beli. Ini tokonya dari Chennai Gaga, agak jalan kaki jauh dikit sih cuman gapapa we biar sayang anak istri.

Nahhhhh..... bagian penutup yang kita tunggu-tunggu.. MAKANAN!!! Hahahaha.

Sebelum saya jabarkan beberapa makanan yang berkesan, saya sampaikan beberapa fun fact di Chennai dan India ini tentang makanan

1. FILTER COFFEE, and coffee chicory..
India selatan banget ini katanya. Short description: ini manissss banget. Ini mirip kopi tarik, sih. Coba langsung googling aja hehe. Nah adapun coffee chicory ... ini saya beli, sayang banget gak sempet difoto. Jadi... pada saat masa tanam paksa, orang2 India itu juga pengen ngincip ya rasanya kopi kan gurih banget. Tapi karena pada diambilin, mereka enggak kalah kreatif. Dipakailah itu akar tanaman mmm bunga Chicory itu, dipanggang, ditumbuk, terus dicampur sama sisa2 kopi deh. Nah, karena paitnya ga ketulunggan, makanya pada saat dikreasikan jadi filter coffee itu, SKM nya rada dibanyakin (walau tetep kemanisan sih untuk selera saya hehe).

Saringannya macam begini. Sumber: wikipedia

Jadiini hasil saringannya dituang ke gelaskecil itu, terus ditumpahin ke tampahnya, terus dituangin ke gelasnya, back and forth, sampai akhirnya berbusa...

Ini lho akar Chicory

Digiling jadi beginiii

2. Perbedaan makanan India Selatan dan Utara
nah kalau ini, insight dari trainer saya. India selatan relatif lebih panas, dan dekat dengan laut, juga banyak pohon kelapanya (in fact, banyak yang jual degan modelan Indonesia gitu). Makanya, makanannya bercitarasa mengandung olahan laut, memakai santan, malah kadang disajikan di atas daun pisang sak gede embuh (buat porsi keroyokan ya), dan enggak banyak olahan susu sapi nya (mentega, keju - paneer: semacam keju muda gitu, yoghurt). Whereas, India utara rasanya lebih banyak olahan susunya.

Dodolan degan ges. Bedanya, kalau di sini, lebih hardcore. Nggak ada itu yang ditaruh di termos es besar-besar.

3. .... Vegan anyone?
Walaupun vegan, tapi kok pake keju? kok banyak pake mentega? Ngeles nya temen saya ini: lah kita dapet olahan lemaknya dari mana dit hahah. Emmm okay. Not that vegan, tho.

4. Boleh makan sapi nggak sih sebenearnya?
Konsensus umum sih nggak boleh. Cuman, kemarin saya makan-makan aja tuh, ada restoran yang menyajikan. Kata kawan saya sih, sebenernya sebagian besar orang di sana sih ga begitu mempermasalahkan. Hmmm... dunno.

Ah yasudah, tanpa panjang kali lebar lagi, saya sudahi dulu yah postingan panjang ini, dengan beberapa makanan-makanan yang saya cicipi! Rencana issue sebelum buka, eh karena si kecil sedikit riwil, kepostpone deh jadinya hehe.

Ini .. apa ya. McD, semacam wrap-wrap isinya paneer goreng tepung gitu.

Ini makanan hotel: yang putih = Idli, mirip kayak serabi, dari fermented chickpeas. yang kaya donat = Vadas, dibuat dari kacang lentil (?). Nah, kalau kuah-kuahannya namanya Sambar.

Ini paneer aloo tiki = keju goreng pedes

Ini namanya emmm apa ya, set nasi vegetarian gitu. Naan, dengan kari tomat (atas kiri), yang tengah itu sayur apa gitu. Kanan atas adalah saus yoghurt (enak), dan yang paling kanan adlah biryani nya. Percayalah, ini kenyang banget.

Ini salah satu interior restoran. Perhatikan ...  selalu ada sebotol aqua botol untuk diminum tamunya.

Ini namanya pani puri, kayak kreker snek beras, tengahnya kita bolongin pake jempol, diisi sama isian itu, terus dikasih kuah seger dingin nya di gelas kecil. Mind you, ini adalah versi fancy nya.Versi bang abang pinggir jalannya itu kaya gini...

Dibolongin live sama abangnya, diambil langsung pake piring, terus nanti nambah lagi sama yang dibolongin dan diisiin sama abangnya. Mind you, itu kadang tangannya sambil abis megang duit.

ini saya kurang tahu apaan ... kayak makanan rumahan.

Ini nasi rendang daging. Iyes, daging, you read it right. Saya juga bingung kenapa bisa ada resto nyajiin daging. Karena penasaran saya mah nyoba aja....yang rasanya ya jelas enak rendang pagi sore.

Kalau ga percaya ini menu makananannya. See rice section.

Gulab Janum, gorengan manis, bahan dasarnya dari tepung, susu bubuk, roti tawar yang diancurin, dan digoreng di ghee alias mentega cair. Terus direndem pakai sirup gula... Ini nagih enak maksimal.

Ini kayak makanan kerupukgratisan gitu... disajikan dengan mint chutney

Ini eskrim, dengan parutan manisan wortel. Weird AF.

Selalu suka disajikan ini gaes... sweet fenelalias adas manis. Biar mulut gak bauu.

Yah selesai .... penerbangan dinihari itu saya kedapetan makan sahur, lumayan lah ges hehe. India.. memang sangat berkesan! Semoga kita berjumpa lagi yaaa.

Comments

Popular Posts