Tunjuk Sebut untuk Meningkatkan Kualitas

Apakah anda familiar dengan istilah "Tunjuk-Sebut?". Tunjuk-Sebut berasal dari dua kata: tunjuk dan (atau lalu) sebut, sehingga menjadi sebuah aktivitas gabungan. Sangat sederhana: sebelum kita melakukan sebuah aktivitas, arahkan telunjuk kita ke mekanisme tertentu (tunjuk), lalu ucapkan dengan lugas aktivitas apa yang akan kita lakukan terkait benda dan mekanisme tertentu. Setelahnya, barulah kita lakukan aktivitas tersebut, dan pastikan sudah sesuai dengan pelafalan kita tadi.

Contoh: saya mau membuka jendela kamar. Caranya: angkat pengunci dan dorong jendela secara bersamaan, tahan dengan tangan kita, lalu pasang tuas pengait ke lubang pengait yang tersedia di sisi kanan. Prosedur tersebut sudah saya baca dari manual book sesaat sebelum saya lakukan (katakanlah, saya orang yang teratur: segala aktivitas harian saya tidak boleh saya hafal, dan harus saya baca terlebih dahulu sebelum saya lakukan). Sehingga, saya kemudian menunjuk ke pengunci, lalu menunjuk ke tuas pengait dan lubang pengait, sembari melafalkan "buka pengunci, dorong jendela, pasang pengait!". Barulah saya lakukan aktivitas membuka jendela, memasang pengait, dan memastikan jendela kokoh dalam posisinya yang terbuka. Selesai.

Sederhana, sekaligus repot, ya? Anda pasti heran: "Membuka jendela ini kan sederhana. Semua orang pasti sudah dan mudah untuk melakukannya." Tidak salah, akan tetapi, Tunjuk-Sebut ini sudah dilakukan di berbagai aktivitas pengoperasian benda-benda di sekitar kita, apalagi di lingkungan pabrik, atau transportasi umum. Familiar dengan transportasi umum? Mungkin anda pernah melihat aktivitas ini di KRL.

Sebagaimana dilansir dari Kaori: (https://www.kaorinusantara.or.id/newsline/34389/metode-tunjuk-sebut-dan-tunjuk-jawab-di-perkeretaapian-jepang-2)

Tunjuk-Sebut (Yubisashi Kanko / 指差呼称)  sudah digunakan oleh pegawai kereta api di Jepang sejak 100 tahun yang lalu. Tunjuk-sebut bermula dari seorang masinis lokomotif uap Jepang bernama Yasoichi Hori, yang mengalami sakit mata saat berdinas. Untuk memastikan sinyal yang dilihatnya, ia menyebutkan status sinyal (aman, hati-hati, atau berhenti) kepada stocker (Asisten Masinis). Asistennya lalu membalas menyebutkan status sinyal itu, jika sesuai maka apa yang dilihat Hori adalah posisi sinyal yang benar.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Railway Technical Research Institute, metode ini berhasil mengurangi kemungkinan kesalahan (human error) dari 2,38 kesalahan per 100 aksi menjadi hanya 0,38 kesalahan per 100 aksi.

Ilustrasi 1: masinis KRL sedang melakukan Tunjuk-Sebut, untuk memastikan sinyal kereta api sudah positif bagi kereta untuk berangkat.(sumber: https://topcareer.id/read/2019/08/21/1480/sebelum-resmi-jadi-masinis-ka-jadi-asisten-dulu/amp/)

Berangkat dari kereta api, rupanya prosedur Tunjuk-Sebut ini juga diaplikasikan dalam industri-industri lainnya (terutama perusahaan dari Jepang) - kalau kata teman saya sih begitu. Mau membuka CB? Tunjuk-Sebut. Mengoperasikan valve hingga tekanan tertentu? Tunjuk-Sebut. Melakukan pengujian strain-strength material? Tunjuk-Sebut! Terutama segala hal yang critical, dan atau operasi / mekanisme yang digerakkan oleh manusia melibatkan ambang batas nilai tertentu, Tunjuk-Sebut menjadi salah satu foolproof method dalam memastikan awareness pekerjanya. Sederhananya, setelah melakukan Tunjuk-Sebut, anda pasti:

1. Tidak mengantuk, apalagi kalau Tunjuk-Sebut ini perlu di-acknowledge oleh rekan kerja anda.
2. Menghindari complacency. Menyediakan dan membaca manual sebelum bekerja tidak selalu memastikan anda untuk melakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Dengan menunjuk setiap tuas, tombol, sinyal, meteran, dan layar-layar indikasi, anda sudah memvisualisasikan secara gamblang apa yang akan dilakukan. Dengan menyebut prosedur yang akan dilakukan, anda semakin memperjelas visualisasi anda, sebelum akhirnya benar-benar dieksekusi.
3. Double inspection, atau verifikasi dari pekerjaan yang sudah dilakukan. Misalkan Tunjuk-Sebut juga dilakukan oleh bagian quality inspector / auditor, awareness dari crew akan selalu terjaga, dan inspeksi yang dilakukan pun semakin shahih. Kita bisa mengatakan "saya sudah melihat bahwa pekerjaan ini sudah dilakukan dengan benar", akan tetapi itu semua hanya disebutkan pelan-pelan / dalam hati, dan anda tidak benar-benar menunjuk mekanisme yang sudah digerakkan tersebut: ada kemungkinan mekanisme nya salah (over lubricating, torsi nya tidak sesuai, sinyal yang dimaksud salah - warna maupun bentuk, dan lain sebagainya).

Nah! Apakah prosedur Tunjuk-Sebut di dunia penerbangan ini juga sudah umum? Sebenarnya sih, sudah acapkali dipraktikan oleh Pilot dan FO: mereka pasti selalu menyebut setiap prosedur yang akan dilakukan (sudah pernah mendengar rekaman CVR, kan?). Mungkin tidak selalu strict harus menunjuk (mungkin prosedurnya banyak kali ya, kalau ditambah menunjuk, pilot malah terlalu banyak fokusnya), tapi idenya sama: meningkatkan awareness.

Bagaimana dengan maintenance crew, atau aircraft maintenance engineer?

Tidak asing di telinga kita, mendapati IOR (Internal Occurrence Report), atau NCR (Non-Conformity Report): keduanya sudah pasti diganjar COPQ (Cost of Poor Quality) seputar hydraulic servicing, tire pressure, overtorque, engine oil overfill, etc. Hal-hal yang rutin, tetapi berdampak critical ini, sering terjadi karena rekan-rekan sudah sangat sering dan terbiasa terhadap pekerjaan sehari-hari. Atau, karena warisan turun-temurun dari generasi-generasi sebelumnya (walau, seringkali prosedur tersebut tidak termaktub dalam maintenance procedure). Sekiranya setelah kita membaca manual, lalu melakukan Tunjuk-Sebut, kemudian kita mencoba melakukan prosedur yang kurang tepat / adat-istiadat, bisa jadi kru yang bertugas akan merasa "Berbeda".

"Lakukan TSM part sekian-sekian-sekian, lakukan functional test dengan membuka CB, lalu buka menu ini dan itu, kemudian pastikan pesan yang muncul adalah xyz. Bila tidak, lanjutkan ke langkah selanjutnya"

Tapi, setelah Tunjuk-Sebut, kita malah melakukan re-rack suatu computer. Oke sih pesan-nya kemudian hilang, tetapi Tunjuk-Sebut kita pasti sudah terdengar oleh rekan kita, atau oleh Pilot / FO. Dalam sekian percobaan, pasti akan timbul pertanyaan "Lho mas / mbak, kok berbeda dengan yang disebutkan?"

Betul bahwa bila pada hal-hal yang kelewat sederhana kita melakukan Tunjuk-Sebut, akan menambah sedikit waktu dalam bekerja. Repot, tetapi benar-benar memastikan setiap pekerjaan kita sesuai dengan standar. Apalagi, bila Tunjuk-Sebut ini dilakukan pada task-task yang bersifat critical, RII, ETOPS, atau berdasarkan pengalaman, sering overlooked  (namun berdampak operasional).

Untuk mengimplementasikan Tunjuk-Sebut ini dalam dunia maintenance, bisa dilakukan secara bertahap. Ingat: perubahan yang drastis sering berdampak pada resistansi. Resistansi yang terlalu kuat? Besar kemungkinan perubahan tersebut tidak akan terjadi.

Comments

Popular Posts