Jakarta Biennale 2015 : Sebuah Catatan Asal-Asalan dari Bukan Penikmat Seni




Assaalaamu'alaikum Wr. Wb.,

Salam sejahtera untuk sekelumit rekan-rekan dimanapun anda berada. Di penghujung tahun 2015 ini, izinkan saya kembali menghiasi layar tulisan ini. Seperti biasa, mengawali tulisan akhir-akhir ini, lagi-lagi saya harus menunda menulis "Semarang Jilid 2". Biarlah, tetapi biarkan kalimat ini menjadi kalimat rutin (yang pun tidak diharapkan sedemikian rutin-nya) pembuka setiap tulisan yang akan saya keluarkan, agar senantiasa menjadi penyemangat mengeluarkan tulisan (basi) ini (biar! berkesan hehe).

Baik beginilah, suatu waktu Jum'at malam, saat sedang memersiapkan rencana tongkrong-tongkrong cakap bersama teman (sekiranya ingin tahu : berenang), tetiba saya di whatsapp oleh rekan kantor. Demi profesionalisme serta menjaga nama diri beliau, kita sebut saja ybs. sebagai Mbak Bunga (peace ya mbak). Selaiknya kakak dengan disparitas usia yang kepalang tanggung, beliau senantiasa bijak, tapi tidak untuk kasus ajakan ini : ajaknya ke Jakarta Biennale 2015. Greng gret sekali kan, girah diri akan seni rupa kembali mencuat ke permukaan. Pas lah dengan diri yang sedang haus-hausnya mereguk aktualisasi. Tanpa pikir panjang, cus sung!

Sabtu menjelang. Masak-masak sedikit, berkemudi dengan Astrea Legend, berenang dan dilanjutkan dengan sauna, sedikit nyasar, akhirnya tiba di stasiun Duren Kalibata, pick-up Mbak Bunga, tiba di Gudang Sarinah, sebagai venue Jakarta Biennale 2015.

//SIDE NOTE 1 : SAUNA//

Setelah selama ini hanya mampu melihat di tayangan-tayangan populer ihwal sauna, akhirnya saya berkesempatan untuk mencobanya, kebetulan ada di satu lokasi kala berenang di Arkadia Sabtu ini. Ide brilian ini tentu saja dicetuskan oleh salah satu guru spiritual saya, Panji, yang diamini oleh guru renang saya, Dimas. Semua nampak biasa setelah menyelesaikan beberapa etape renang dan pelajaran selam kecil-kecilan oleh master Dimas. Tetiba, "Eh di sini kan ada Sauna, gratis lagi, sekalian lah udah bayar mahal-mahal dikit." Panji memang guru spiritual yang breaktrough.

/* ngomong - ngomong




Semacam sh!t sekali ya hasil Googling ini.

-ngomong - ngomong */

Jadi, awalnya, seperti biasanya saya ketika mencoba hal-hal baru, benak adil saya selalu berpikir "Ah gininan doang".Yap, saya sering meremehkan orang-orang ini, yang memakai handuk putih lalu menuju dalam sebuah bilik kayu tak terlalu luas, kemudian menyergap sekumpulan uap air hingga memanaskan diri mereka. Keringat bercucuran, berbagai kata-kata terjujur (sering berupa umpatan, gumaman, kekesalan, atau erangan) keluar dari mulut mereka. Tak perlu waktu lama, muka mereka memerah dan "F\/<k this I'm out!" Haduh niredukasi sekali.

Saya salah.

Kesombongan memang jarang menang-nya. Kami hanya tahan di dalam ruang sauna untuk 15 menit - penuh derita. Berbagai makian, berbagai diskusi ihwal iman-iman di dunia ini kami keluarkan, hingga debat pro-kontra ihwal gay. Keringat bercucuran, kesadaran kami selapis demi selapis berkurang, tak kuasa saya tak terasa berujar "Ya Allah, panasnya sauna saja seperti ini, apalagi panasnya api neraka". Endes, mak nyuss, pak Bondan mungkin tobat-tobat sambil merem melek seperti biasanya di televisi, kalau dimasukkan ke dalam sauna ini.

Hanya beliau mungkin benar-benar sepenuh jiwa. Tobat. Bray, kami tidak kuat, keluarlah dengan penuh sesal tetapi lega "Oh begini toh hobinya orang kaya".

We'll be back, sauna!

//SIDE NOTE 1 END//

Jadi, Gudang Sarinah adalah suatu kawasan yang benar-benar asing bagi diri saya, apalagi Mbak Bunga cah Surabaya center of The East Java Province. Awalnya saya mengira bahwa Gudang Sarinah adalah suatu tempat di belakang Sarinah, pusat perbelanjaan di Tengah Jakarta yang tersohor itu. Memang sotoy dan mengonsultasikan pandu arah kepada Mbak Bunga, rupanya beliau sudah mahfum bahwa Gudang Sarinah bukanlah Sarinah tersebut. Lagi-lagi "Ah gini doang" saya terbukti salah. Rupanya, Gudang Sarinah berada di dekat Stasiun Duren Kalibata.

Ya sudahlah.

Setibanya di depan, oh waw artsy sekali. Ada banyak kendaraan bermotor roda dua, ditata rapi ala-ala industrial jaman uap dulu ketika motorized bicycle baru saja diciptakan., Kemudian nampak beberapa orang berbaju resmi hitam putih - laiknya tenaga keamanan professional, bersama dengan beberapa orang berbaju preman memainkan gitar. Mereka pasti cerminan dari working class heroes, kaum-kaum yang melawan rezim opresif, memerah segala daya keringat mereka, walau tanpa disadari sebenarnya penindasan seperti ini mungkin lebih baik ketimbang akhirnya di abad 20 mereka semua tergantikan oleh mesin-mesin terotomasi serba canggih.

Saat kami dengan sopan melewati pelaku seni tersebut untuk meninjau artefak motorized bicycle tersebut, kami diberikan secarik tanda kertas.

"Bayarnya nanti saja ya pas pulang"

Oh ini parkiran motor. Ekspektasi saya perlu diakui sedikit berlebihan.

---

Gudang pertama yang saya masuki, oh waw kami langsung disergap oleh mbak-mbak dan mas-mas ramah "Mau ngelukis gratis nggak mas mbak?" Wah, salah sangka mereka, disangkanya kami pemuda-pemudi dewasa nan bijaksana yang lugu dan  malu untuk menggoreskan tinta. Apasih, tapi pokoknya mereka salah sangka, karena sejatinya kami adalah jiwa-jiwa anak-anak yang terperangkap di dalam fisik yang ... anak-anak juga. Sigh. Kami tidak mungkin jadi pramugara/i., tapi beginilah dua hasil karya saya (maaf ya Mbak Bunga gak tak fotoin).

Doti WUZ here!

Tribute to my highscool teachers whose name are inscribed here

Gudang pertama ini juga ada dua wahana asik yang langsung tanpa ampun menjadi objek foto saya. Simak kemon :



Ini teh apa ya, belom sempet nanya euy. Seperti sebuah wahana kendaraan, modernitas yang berpadu dengan gerobak dorong. Ada dua makna yang dapat kita petik, bahwanya segala kendaraan apapun yang kini dengan tinggi hati nya menempuh jalan Jakarta, niscaya tidak ubahnya dengan kecepatan gerobak. Progressivitas kita, dengan segala hormat, kini menjebak diri kita untuk progresif melambat, menjelang stagnansi. Luar biasa ya, sekolah tinggi-tinggi menciptakan mobil jalan raya tetapi akhirnya digunakan untuk melambatkan diri kita saja.


Yang kedua, tidak lain dilihat di gambar kedua, kehidupan tak akan pernah puas. Memang mungkin kita semua sama-sama mengarungi dua puluh kilometer per jam di kenistaan jalan ibukota ini, tetapi mari kita lihat sekedar. Setelah sampai rumah, mereka yang naik mobil mahal besar kemungkinannya menjumpai bak mandi hangat, kemudian melanjutkan santap siang. Mereka yang naik angkutan umum, juga mungkin menjumpai mobil mahalnya terpaksa diparkir saja karena tempat kerjanya sangat jauh dan mahal untuk ditempuh mobilan. Mereka yang naik motor, lebih sering, hanya meminum air lantas menyantap santapan sederhana, sembari memikirkan cicilan motor di bulan selanjutnya. Ya, dengan segala hormat, saya ingin mohon maaf atas pendapat saya yang asal-asalan, tapi beginilah hidup. Mau bagaimanapun apapun yang kita tempuh, akan selalu ada enak dan tidak enak nya.

Memasuki gudang  ke dua, mulut ini rupanya tak berhenti bertakzim, sungguh memuaskan gelora hasrat akan menemui instalasi karya seni yang khan maen menyelenehi akal sehat. Di pelataran gudang kedua, sayup-sayup terdengar suatu syair. Tidak terlalu jelas, tetapi yang mampu saya dengar adalah.


Masa lalu

Biarlah,

Masa

Lalu!


Jangan kau

ungkit jangan

ingatkan aku!


Bait-bait puisi yang indah, luar biasa, lama bibir ini tidak mengapresiasi karya sastra. Tetapi oh, sebentar, ketukannya lazim tetapi tidak lazim untuk sebuah apresiasi sastra. Hentakan demi hentakannya, suara serulingnya, ditambah suara gadis tersebut yang menggelayut manja, oh rupanya ini lagu daripada Inul Daratista. Masa lalu. Baik.

Ada sebuah panggung ungu, tapi nampak aneh karena hanya setinggi dengkul anak-anak. Tenda ini nampak seperti sumber suara dari deklamasi dangdut tersebut. Mbak Bunga bersikeras bahwa "Dot ini pasti nanti kalau malam jadi panggung hiburan gitu, ditinggiin, nah ini teh cuman belom disiapin aja". Tidak mungkin, batin seni saya menenetang habis-habisan pemikiran birokratis tersebut "Mbak pasti ini instalasi seni! Lihatlah betapa karya seni ini ingin menggambarkan bahwa dangdut selama ini identik dengan musik rendahan, dinikmati secara sempit-sempitan dan remang-remangan. Aku bisa membayangkan dua orang penyanyi gadis berpose seperti ini (memeragakan pose ekstrim)!"


Sebelum kadung bingung, baiklah,  ini rupa dari instalasi seni tersebut.

Masa lalu biarlah masa lalu brayyyy


Dan ini pose yang saya bayangkan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiz8vd6UVwywSFxeIymCis0kl5-2WdZd6ohe6mN1S8-P4H2BSq08h2FBC0vj6OMlSAAVD0q3RDaFjUJ8idc7ue14e3qLwdIYNaBtpYDBNjT68Nu1Swz5pIX8YSWabIVbooQ8XZz5fqvjy23/s1600/OM+Sera+Ricuh+10+Juni+2015+%25288%2529.jpg
Ntapsbossss

Ngomong-ngomong, instalasi tersebut menurut buku panduan rupanya benar instalasi seni. Berjudul "Kesempatan dalam Kesempitan", karya Wiyoga Muhardanto.

Lanjut masuk ke gudang 2 brayyy.

Sebelum lebih lanjut, kebetulan kan saya sudah beli buku panduan nya ya, berceritera tema dari pameran dan penjelasan masing-masing karya. Dalam buku ini, diceriterakan bahwa Jakarta Biennale ini ingin mengangkat tiga hal : Air, Sejarah, dan Gender. Menurut hemat saya .... ah hmmm, boleh sih ya. Tapi baiklah, ada sedikit interpretasi yang berbeda dari saya, menyebabkan ada kategorisasi yang sebaiknya saya sampaikan dalam tulisan ini, agar mudah dibaca enak dan sekiranya anda menangkap dari apa yang saya tangkap.

-> WARNING : tulisan ini selanjutnya (dan diatasnya juga ada sih) murni kebanyakan adalah interpretasi saya, walau tentu sudah saya coba cocokkan, kroscek, dan sedemikian rupa meresapi ulang maknanya dengan yang ada di buku panduan (the way we should enjoy the arts) <- FINISH WARNING. Continue reading.


//KATEGORI 1 : SEJARAH


1. "Bertingkah Seperti Pria Dewasa", Gambar di Atas Kertas, oleh Bron Zelani


Sejarah, menurut hemat saya, adalah tidak ubahnya dari kisah. Hanya saja, sejarah adalah kisah yang diklaim oleh pihak x untuk dianut oleh y, dimana sering sebenarnya x < y. Maksudnya begini : sejarah tidak pernah jujur. Sejarah selalu ada versi, dan  versi yang diedarkan adalah versi yang dibuat oleh pihak yang secara takaran apapun lebih kurang lah (cara membaca : kurangnya lebih) ketimbang pihak umum yang harus menerima kisah tersebut sebagai sejarah. Fakta. Bagaimana ya, ya begitu deh.

Mas Bron Zelani ini mencoba memaparkan kisahnya, yang karena diangkat dalam ruang publik, inilah sejarahnya beliau dalam pencarian jatidiri. Ada sebuah pepatah (yang baru saja saya ciptakan), "jika bung ingin menyimak sejarah seorang lelaki, simaklah selera musiknya sedari kecil hingga ini. Mantap bosku?!" (ups mantap bosku bukan bagian dari pepatah). Ya, Mas Bron Zelani ini disejarahkan mencari jati diri dalam musik, bersama band Gokilbillies, band aliran rockabilly, ala-alanya mas Elvis Presley.

Seperti disimak pada sebahagiaan karya beliau, yakni yang menggambarkan gelombang gaya rambut pada masa musik-musik mas Jimi Multhazam bersama The Upstairs (eh boleh sekalian baca tulisan saya yang sebelumnya judulnya Menara Lara ehe tx). Mas Bron tidak kalah ketinggalan, sekiranya kala itu menjadi salah satu masa beliau ikut-ikutan bergaya rambut keklimisan juga.

Menghibur, sejarah bisa juga menghibur, dan tetap kaya makna, seperti bila kita menyimak dari ujung kiri ke kanan "Bertingkah Seperti Pria Dewasa" ini : sejarah yang baik adalah sejarah yang mengandung proses : kiranya proses pencarian jatidiri ini kita renungi bersama.


2. "Flores Revisited", kumpulan fotografi, oleh Ng Swan Ti


Sebelumnya, empat foto ini saya kolasekan lalu saya buat hitam putih. Sekiranya tidak mencerminkan karya seni aslinya, hehe punten.

Flores. Pulau di Timur Indonesia ini membuktikan dirinya sebagai hmmmm "Apa sih Flores? Isinya apa? Sudah ada listrik belum?" Memang, Jawa-sentris (sering erat pula dengan Islam-sentris) di Indonesia membuat beberapa nama-nama pulau, dan atribut lainnya yang melekat, seolah terlupakan. Mungkin selain Jawa, kita mengenal Bali, dengan ritual tradisi Hindu nya yang masih demikian kental. Tetapi Flores? Telusur demi telusur, salah satu identitas yang dapat dieratkan dengan Flores adalah tradisi ritual Katolik nya yang masih kental hingga saat ini. Semua berasal dari kedatangan misionaris Portugis kala itu untuk menyebarkan agama Katolik, yang kemudian berbaur dengan kepercayaan serta adat istiadat yang lebih dahulu bersemayam di Flores.

Patung Tuan Ana (yang ada di foto pojok kanan atas) merupakan salah satu ikon yang terkenal di Flores ini, selaiknya dengan Patung Tuan Ma. Dalam dua patung inilah, devosi warga Flores terhadap konsepsi keselamatan, diejawantahkan. Tradisi Semana Santa, suatu tradisi yang mengenang jalan derita (Via Dolorosa), seolah melambangkan betapa kental dan tak terpisahkannya ritual Katolik dengan warga Flores (terutama di kota Larantuka). Sesuatu yang mungkin jarang, atau bahkan tidak pernah kita lihat sehari-harinya, secara setiap detik kita selalu dihimpit oleh berbagai sentris-sentris konvensional yang seolah telah termaklumkan pada seluruh warga NKRI.

Ng Swan Ti ingin membawa kita pada perjalanan yang sepertinya jarang kita jalani, melalui karya seni ini. Saya cukup larut, dan menyenangi perjalanan iman alternatif ini. Mungkin juga sebagai refleksi diri melihat kemajemukan yang selalu disembunyikan dalam dikotomi "Mayoritas - Minoritas". Haduh saya ngomong apa ya ini sebenarnya, entahlah, tapi ada sesuatu yang sulit-sulit-mudah untuk dijelaskan saat melihat karya seni ini. Apakah iman, apakah major

3. "Where the Silence Fails", dua video instalasi, oleh Meiro Koizumi

Ini pernah saya tulis di instagram sist, jadi dicopy ulang saja ya hahahaha. :



Salah satu instalasi karya paling mencengangkan (opini pribadi) yang dipajang di @jakartabiennale. Instalasi video ini berceritera perihal Tadamasa Itatsu (alm.) yang kala 1945 ditugaskan menjadi pilot pesawat " Kamikaze". Tugasnya sederhana : mengemudikan pesawat tsb. untuk ditubrukkan pada objek sasaran. Jelas merupakan misi militer bunuh diri, arti harafiah. Sayang, sebagaimana mengapa kita dapat melihat rupa beliau di kala tua (beliau meninggal dgn damai di hari tuanya), beliau gagal melaksanakan misi tersebut : mesin pesawatnya mati di tengah jalan sebelum sempat menubrukkan dirinya. Ia jatuh di sebuah tempat (ada yang bilang di suatu pulau atau pesisir) : Ia hidup, tetapi jelas gagal bila menyimak tugas yang diembankan kepadanya adalah "Bunuh diri".

Hidup dalam harga diri yang ternoda setelahnya, Ia hidup dalam tirai yang tertutup. Beberapa kali terbesit niatan bunuh diri (tentu tanpa pesawat yang terbang), tetapi tidak pernah berani. Hingga akhirnya, suatu masa beberapa puluh tahun setelah perang usai, Ia memutuskan untuk membuka diri kepada publik : sejarah tak boleh dilupakan. Beliau mengumpulkan surat-surat dari sesama rekan penerbang nya yang " Sukses menjalankan misi" : menanyai satu per satu surat yang ditujukan pada keluarga mereka yang telah ditinggalkan. Beragam sudut pandang dari beragam opini penerbang tersebut akan "Perang Dunia" : beberapa menolak tegas, beberapa percaya akan mimpi yang digelorakan kaisar, beberapa pun ragu dan hanya ingin kembali pada yang mereka tinggalkan di rumah masing-masing. "Where the Silence Fails" mereka ulang semua itu dalam dialog imajiner. Itatsu menyampaikan segala ceritera paska perang kepada kerabatnya yang "Sukses", Ashida. Di sisi yang sama, Itatsu pun memerankan Ashida, merespon apa yang Itatsu sampaikan.

Ya, karya seni ini mencoba mengusik kembali nilai-nilai diri yang kita miliki dengan sekitar, dengan sesama, dan dengan masa lalu. Betapa, bahwa, manusia senantiasa hidup dalam ironi : permukaan yang Ia tampakkan dan diupayakan, berbeda dengan maksud maupun keinginan sebenarnya.

4. "Rajah", patung tergantung, oleh Octora



Aceh. Riwayatmu kini. Lagi-lagi sentralisme-desentralisme, lepas-pasang hubungan Jakarta dan pulau Jawa dengan pulau lain, terpampang pada instalasi seni di Jakarta Biennale ini. Demikianlah Octora mencoba menggambarkan, relasi jauh-dekat nya Aceh terhadap pemerintahan sentral. Ini menurut deksripsi karya yang saya baca, ya.

Pun pertama yang saya tangkap dari instalasi ini adalah Rencong, yang tergantung dalam sebuah struktur kaca (bohongan, dari mika-kah?), disandingkan dengan struktur lainnya, kesemuanya berbentuk seperti rumah. Rumah yang saling berjauhan, dengan satu rumah kaca berisi Rencong, berhadapan dengan dua rumah yang saling bertolak-belakang : satu kosong, dan satu lagi terisi oleh kain-kain "Sarong". Apakah ini? Sesuatu yang bertentangan, satu penuh amarah yang sedemikian jelasnya, dengan suatu hal yang saling bergantung, tetapi seolah yang satu hanya membebani saja? Terlebih, beban tersebut rupanya "hanya" tumpukan-tumpukan kain sarong kumal yang tidak lagi bagus.

Mungkin, ya, mungkin, inilah salah satu perlambang rapuhnya hubungan Aceh - Jakarta. Bahwasanya, terpisahnya mereka sejatinya memang suatu hal yang "Meant to be", bukan, bukan berarti dalam wujud pecah kongsi kenegaraan. Suatu kemarahan yang sebenarnya tidak perlu disembunyikan lagi. Aceh yang dipandang oleh Jakarta sebagai beban, suatu entitas tertinggal, dan tetapi ketika terjadi ketidakpuasan tetap harus diperangi, oleh Jakarta yang sebenarnya kosong. Suatu yang sering menanggap remeh suatu permasalahan, hingga akhirnya menjadi demikian serius, dan tetapi ditindaklanjuti secara gegabah dan hanya semakin memertegas kebencian dan kecemburuan terhadap Jakarta.

Keleeeussssss. Entahlah. Aceh,.....

5. "Rumah", instalasi objek dimensi bervariasi, oleh Leonardiansyah Allenda


Sebagai pembuka : http://bdgcitywatch.org/periodisasi-kampung-kota/

Jadi baiklah. "Ekowisata tidak sesederhana label "hijau" dan "ramah lingkungan" ....." "Di Indonesi, proyek-proyek ekowisata seringkali hanya sebatas kemasan, tak lebih dari pembangunan fasilitas-fasilitas di tengah lanskap alam".... Demikianlah tutur sang pencipta karya dalam booklet yang saya terima.

Antara ya - ya - tidak, dan disertai dengan isu wisata alam yang satu lagi. Secara umum, apa yang saya tangkap daripada problematika wisata alam adalah dua. Yang pertama sama seperti di atas, yang kedua adalah benar-benar alam yang dijadikan objek wisata tapi sebatas hanyalah objek pemuas kepenatan manusia semata. Alam menjadi tidak nyaman karena Ia diwisatai manusia, sebut saja sampah, pungutan liar tak bertanggung jawab, sampah lagi, lalu kebakaran, lalu longsor. Diawali dengan cuitan instagram "My Nature My Adventure" kemudian longsor kebakaran dan diakhiri di change.org maupun status LINE "Stop eksploitasi alam"!

Saya kadang berpikir, kenarsisan manusia memang kadang bisa membawa bencana bagi alam. Satu, dua, lalu ribuan orang menjelma menjadi avalans berbondong-bondong membawa kamera eksyen lalu cekrek cekrek. Tidak lupa selanjutnya peluang datang dalam bentuk cuankie, bakso tusuk, somay, minuman, dan sebagainya, suatu hal yang sangat tidak mungkin diproduksi alamiah oleh alam. Hasil selanjutnya jelas : sampah.

Alam sebenarnya tidak perlu dibaguskan jalannya, agar keringat menjadi penghias perjuangan. Alam juga kadang tidak butuh diabadikan dalam foto, kadang hanya perlu dinikmati oleh indera kita saja, tidak lebbih lewat lensa kamera.

6. "Does the Body Rule the Mind or Does the Mind Rule the Body", video satu-kanal dan instalasi objek, oleh The Youngrrr


 Siapakah kaum muda? Apakah yang sebenarnya diperlukan dan dijuangkan oleh negara kepada kaum muda? Apakah "Mengolahragakan Masyarakat, Memasyarakatkan Olahraga", ataukah "Revolusi Mental"? Apakah dalam jiwa yang sehat benar terdapat tubuh yang sehat (eh ini kebalik ya?). Melalui karya ini, duo Yovista Ahtajida dan Dyantini Adeline (kolaborator daari gerakan The Youngstrrr tersebut), ingin mengusik suatu hal : apakah pembangunan sumber daya manusia dan pemuda ini benar penting, ketika semua ini hanya dijadikan semacam legitimasi oleh rezim yang berkuasa? Ataukah, semua yang mereka upayakan sebenarnya sudah relevan dengan kebutuhan kita (dan mengapa kita tidak tahu?)

Awalnya sih saya kaget betul melihat dokumen yang difigura (dan ada cetakan naskah "Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan tahun 1985 - 2015"). Apakah ini semua konspirasi? Semua dibahas habis, seolah gerakan-gerakan positif (dan beberapa yang memang bernuansa propaganda) yang tumbuuh akhir-akhir ini, semua murni rekayasa pemerintah : NKK/BKK, P4, Senam SKJ, Rekonsiliasi Kelompok Islam melalui ICMI, BAZIS, dan beberapa rencana-rencana pengembangan program motivasional. Sedemikiankah aspek kehidupan kita, diatur sedemikian rupa, demi terwujudnya normalisasi keseharian yang normal, agar tercapai badan dan jiwa yang sehat, bebas konflik, dan pertentangan?

Tapi, saya setuju sih mengenai pembentukan ICMI dan BAZIS. Ya, walaupun toh rekam pembentukannya fiksional (dalam arti pembentukan keduanya - nampaknya - tidak dirancang sedemikian rupa oleh pemerintah), tapi gagasan sang pencipta karya menarik. "Untuk merekonsiliasi berbagai kelompok-kelompok Islam". Suatu hal yang kini benar-benar relevan, bukan? Kelompok muda kita kini (ini tragis sih sebenarnya, di kala kelompok muda seharusnya paling kritis dan mampu mencerna informasi yang simpang siur, ketimbang kelompok tua) mudah benar mengafirkan sesamanya. Melarang ini melarang itu. Apakah mereka tidak belajar bahwa naluri paling dasar untuk manusia adalah "Larangan diciptakan untuk dilanggar?" Larangan Tuhan saja sering betul kita terabas, apalagi larangan dari sesama manusia? Alih-alih mereka mencapai tujuannya (yang saya yakin betul pasti baik), malah terjadi ketidakteraturan dan riuh-rendah di beragam media sosial.

Riweuh habring kitu, nyak.

7. "Saujana Sumpu", fotografi, oleh Yoppy Pieter

Ini cocoknya sambil mendengar "Banyak Asap di Sana" oleh Efek Rumah Kaca : https://youtu.be/ckR2tWObP9w
 

Oke.



Merantau. Adalah impian dari setiap anak-anak Minangkabau. Mungkin semacam kewajiban untuk belajar menjadi dewasa, dan untuk kelak kembali ke desa dan membangun desa-nya kembali. Demikianlah semangat perantau, tapi tidak hingga kini, yang akhirnya harus kalah dan menyerah akan indahnya urbanisasi : semua merapat ke kota, hingga akhirnya kampung halaman hanya menjadi sebatas obat rindu dan diziarahi setahun satu kali kala Idul Fitri. Mungkin lebih, tapi seringkali kelebihan kunjungan itu karena ada relasi yang tertimpa musibah di sana.

Pesan dari booklet adalah "Yoppy tidak meniatkan karyanya sebagai nostalgia semata, tidak juga untuk menghakimi perkembangan zaman dan teknologi. Melalui Saujana Sumpu, Yoppy ingin menggelitik kesadaran kita akan konsekuensi atas tindakan masa lalu, merenanungkannya, untuk kemudian kembali maju melangkah". Baiklah (?). Tidak banyak yang bisa saya ceritakan di sini. Sebagai sekedar gambaran yang lebih jelas, selain foto kerbau berlatarkan rumah adat ini, rumah tersebut digambarkan sepi, hanya berisi seorang sepuh dan ditemani oleh seekor kucing. Diam dalam temaram, pada foto yang lain.

Silahkan artikan dan renungkan sendiri.

8. "Kebisingan adalah Sarapan", instalasi multimedia, oleh Melawan Kebisingan Kota



Kota saya berisik betul. Seperti setiap sudut kota saya dihiasi oleh wak aung yang tak henti-hetinya memekikkan kegagahannya. Sudut-sudut kota saya penuh dengan orang narsis. Bunyinya brmmmmm brkkkk trotokkk trotokkk. Beberapa yang tidak terlalu narsis mungkin hanyalah gejessss gejesssss. Tetapi mereka terjebak dalam penderitaan yang sama : kebanggaan mereka akan tahan hidup di kota yang demikian macet ini sebenarnya membahayakan. Transportasi pribadi roda dua kini hanya semacam lima ratus ribu bisa bawa pulang (termasuk mata elang, lengkap dengan handphone communicator di setiap perempatan lampu merah yang anda lewati, how f**ked you are).

Bagaimanakah kita dapat sadar akan kebisingan yang kita ciptakan setiap hari, sebagai konsekuensi minimnya kendaraan umum, dan menjamurnya kendaraan kreditan, serta ehm fenomena ojek online (saya akui walau senang memakainya, ini bukan kendaraan umum)? Melawan kebisingan kota, sekelompok seniman audiovisual asal Surabaya, mencoba mengevokasi diri kita dengan menciptakan bunyi-bunyi bising artifisial dalam instalasi seni mereka ini. Bentuknya beragam, tetapi kebanyakan rongsok dan lusuh : mengingatkan diri kita bahwa betapa apa yang kita naiki selama ini tidak jauh berbeda dengan apa yang disajikan di atas meja itu. Tidak pandang bulu, sih ya, menurut saya, walau kendaraan anda baru, tetapi tidak diutilisasi dengan baik : anda telah menyumbang bunyi-bunyian yang memekakkan telinga tersebut.

//KATEGORI 2 :AIR

9. "Tumpah Ruah di Wonocolo", instalasi, oleh Maryanto


Wow, untuk yang satu ini, coba teman-teman baca di : http://www2.jawapos.com/baca/artikel/17851/menata-penambangan-ladang-migas-wonocolo-di-bojonegoro

Rupanya ya, persis seperti yang dijelaskan di dalam booklet, praktik penambangan minyak secara illegal ini, telah berakar dari ditinggalkannya tambang minyak menjanjikan ini oleh perusahaan Belanda. Alat-alat yang semula tradisional, kini mulai berdatangan alat-alat modern : suatu berkah tetapi jelas melanggar hukum sebab tidak ada yang berizin dari dirjen migas selaku pengelola perusahaan tambang minyak di bumi Indonesia ini.

UKM (Usaha Kecil Milyaran) di Wonocolo ini, diangkat oleh Maryanto dalam instalasi seni nya. Sebenarnya, mungkin bila kita berpikir sejenak kembali, bukankah banyak usaha-usaha minyak di Indonesia yang nampak illegal tetapi berkedok legal? Illegal dalam artian, seperti menyaalahi semangat undang-undang dasar bahwa Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Mengapa hingga sejak Royal Dutch Shell, Chevron, British Petroleum, dan Pertamina, mengelola minyak-minyak bumi di negeri kita, kita tidak kunjung makmur? Cukup aneh dan logis, mengingat dahulu cadangan minyak kita demikian besar katanya hingga masuk OPEC?

Atau, memang tidak pernah besar, sehingga ini semua hanya menjadi sekedar peninak-bobok-an hingga kita benar-benar tak memiliki daya tarik dalam ekonomi hitam ini?

Khan maen. Saya bingung. Tapi toh tetap saja banyak teman-teman saya bekerja di sana lalu menjadi makmur. Tapi kemudian saya bekerja, walau tidak terlalu makmur, teman sekitar saya belum kunjung makmur. Adek pemulung di kosan saya pun tidak kunjung. Tanya mengapa..

10. "Sembarang Kota", tanah liat dalam kolam air, oleh Dea Widya

Masih mengangkat isu kota ....






Kotamu seperti apakah? Baguskah? Coba kamu sekedar menengok ke tinggi-tinggi ke atas. Itu bagus? Kira-kira itu melambangkan apakah dari sekian ratus tahun kebelakang sejarah kotamu? Mungkin seperti itu yang coba dikatakan oleh Dea Widya dalam karyanya yang satu ini. Di satu sisi, saya adalah orang yang sangat pro terhadap hunian vertikal. Fakta penting, kita semakin gemar beranak-pinak, keluarga bertambah, otomatis hunian bertambah (mungkin sebelum ide menarik saya akan rumah jalan alias metromini yang disulap menjadi rumah dapat terwujud). Sayangnya, sesuai urban legend dan mukjizat, hanya Padang Arofah lah tanah di muka bumi ini yang dirahmati Allah untuk dapat secara Subhanallaah berkontraksi dan menampung jemaah haji dari seluruh dunia.

Selebihnya, no, tidak, tanah di muka bumi tidak akan bertambah dan tidak akan mampu mengimbangi untuk dijadikan rumah-rumah horizontal untuk menampung segenap insan hasil anak-pinak ini.

Sayangnya, bangunan vertikal masa kini sering menjadi mengaburkan identitas kota. Semua serba tinggi-tinggi, berdesain kaca, dan ya demikian begitu saja. Belum saya sebut bahwa kebanyakan tidak terjangkau, lho ya.

Oh, dan, apakah kantor merupakan hunian vertikal? Lucu juga ya, mengingat banyak betul waktu yang rela kita habiskan di kantor, berjam-demi-jam, hingga larut malam, pulang pergi menembus kemacetan, lalu repeat until selama lima hari, plus satu hari bila lembur akhir pekan. Praktis pulang di rumah kita hanya sekedar menempelkan badan di kasur, lalu tidur. Akhir pekannya? Lagi-lagi kita menjumpai diri berkumpul dengan sesama di ... tempat vertikal, bertajuk mall.

Ironis, ya? Betapa sebenarnya apa yang kita tolak mati-matian (hunian vertikal), sebenarnya selama ini sudah demikian sering dan menghiasi diri kita hingga akhir masa nanti. Mungkin saja, hanya, kita tidak menyadari, sebab demikian semua bangunan vertikal itu nampak sama : tinggi, angkuh, laksana menara lara.

//KATEGORI 3 : WANITA

11. "Pontianak : Chapter One : I've Got Sunshine On A Clody Day", wheatpste, instalasi video tiga kanal dimensi bervariasi, oleh Yee I-Lann.

 Sampai lupa ya saya, bahwa sebenarnya ada topik perihal kesetaraan gender. Baiklah, menurut saya ini juga menarik, beginilah ...


Mereka semua mengerikan, begitu pertama alam bawah sadar saya merengek kala pertama memasuki ruang pamer ini. Tetapi, satu demi satu, perlahan saya selami makna daari video yang saya tonton ini sebenarnya lebih dekat dari yang saya kira, yakni tentang Wanita dan segala ekspektasi yang melekat dan menjadi fitrah (yang dibuat manusia) yang menyedihkan.

Kita sering sekali menjunjung tinggi status kebapakkan dan kelelakian dalam keseharian kita. Coba, bagaimana tidak, setiap saat kakak ingin pergi ke luar pasti pesan mama adalah "Jangan pake baju yang aneh-aneh nanti diliatin sama orang-orang"., atau semacam sindiran bahwa "Ih itu cewek kok seperti itu ya penampilannya, menggoda banget", atau seperti "Yampun, jadi cewek kok gampangan banget sih". Belum puas? Saya tambah lagi selentingannya "Cewek itu susah laku banget ya, jual mahal, gitu tuh efek ketinggian sekolah dan kebanyakan ngejar karir".

Pernahkah kalian mendengar selentingan sebaliknya?

Pernahkah kalian mendengar ketika seorang lelaki yang keluar, berpakaian modis, lalu dilihat oleh segerombol wanita, dan wanita itu akan bersiul girang?

Pernahkah nada sindiran pedas dialamatkan kepada seorang lelaki berkepala tiga yang belum menikah? Mungkin kebanyakan empati yang mendarat pada pundaknya.

Sadis, sering masyarakat kita secara benar-benar sadar, menciptakan sosok yang ditakuti dan dihindari secara berlebihan dalam sosok wanita. Kuntilanak seperti itu. Wanita masa kini, sayangnya, juga seperti itu. Habis-habisan dilecehkan, dan pada beberapa kondisi, dijauhi dan dikucilkan sehabis-habisnya.

Oh ya saya baru teringat. Selentingan "Wanita karir vs Ibu rumah tangga?" Mengapa tidak ada satupun yang menggagaskan "Bapak rumah tangga?" Ya benar bahwa wanita adalah sosok mulia yang bertanggungjawab dalam setiap hasil akhir dari proses reproduksi : mereka menghasilkan anak. Tetapi mengapa tanggungjawb yang demikian besar selalu dialamatkan pada wanita?

Catat baik-baik, bahwa hanya Bunda Maria (dalam islam : Maryam), yang mampu melahirkan anak tanpa campur tangan sel kelamin jantan apapun.

Dan catat baik-baik pula, bahwa prostitusi adalah salah satu profesi tertua di dunia.

Menangkap maksudnya? Secara alamiah, memang, lelaki adalah spesimen yang sering diuntungkan dan selalu dimudahkan. Dan entah hingga kapan, kesetaraan gender tidak akan pernah tercapai, karena sejatinya wanitalah yang selama ini bekerja dan menanggung beban yang jauh lebih berat ketimbang lelaki. Sebelum hak-hak serta segala hal yang melekat pada wanita, dapat dilekatkan pula kepada lelaki, saya rasa kesetaraaan gender hanya omong kosong.

//KATEGORI 2 :AIR (lagi, ah udah kepalang ditulis disini gapapa ya)

12. "Mbanyu Mili", instalasi multimedia, oleh Lifepatch



Akhir kata, penutup ulasan karya seni yang terdapat di Jakarta Biennale dari saya, adalah satu instalasi pemberi harapan yang dirancang oleh organisasi Lifepatch. Instalasi ini sendiri merupakan prototype dari apa yang sekarang sedang mereka upayakan kepada warga Strenkali, Surabaya, akan kemudahan akses terhadap air bersih. Memberantas praktik-praktik penjernihan air yang terkesan abai, nekat, dan ironi (karena mereka dekat dengan sumber air), Lifepatch mengisi celah-celah yang belum (atau tidak?) mampu diatasi oleh PDAM di kota Surabaya.

Semacam googling sendiri aja kali ya, karena untuk ini saya ingin teman-teman benar-benar mengetahui akan sepak terjang mereka secara langsung.

https://www.google.com/search?q=lifepatch&ie=utf-8&oe=utf-8


-----------------------------------

Sebenarnya masih ada beberapa karya seni, yang tapi sayangnya kok saya kurang mencatat judulnya apa ya. Dan atau, hehe, sudahlah, saya sisakan sedikit untuk kalian berkontemplasi akan apa yang disuguhkan di Jakarta Biennale. Dan tentunya, ini hanya segelintir kecil. Saya sangaaaaat menganjurkan anda untuk kesana, mencari diri anda, dan bersentuhan kembali dengan apa yang selama ini bisa jadi tidak anda sadari.








Good work, Jakarta Biennale 2015! Ayo bergerak sekarang!

Comments

  1. Dot, niat amat nulisnya. Butuh keinginan kuat buat baca sampai habis. Tapi karena penasaran, jadi, terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. hatur nuhun uda, yah namanya juga tulisan asal-asalan, sekiranya bisa melepaskan sedikit uneg-uneg (yang tak terstruktur ini) agar dapat dirasakan oleh khalayak :')

      Delete
  2. Tiga kali kesini, tiga kali takjub. Doti jagoan bisa apresiasi seni segini gamblangnya (gamblang kromong). Go doti go.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ntapsbosque huehehehe. namanya juga tulisan asal-asalann jadi ya ...

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts