Menara Lara
Gemilang harusnya, dirimu, yang kesepian,
Bagaikan mahkota, anugrah-mu, menjauhkan,
setiap raga penuh sesal di dekat sinarnya
Di Menara ...
Di Menara ...
Sendirian, tak berkawan
Hanya angin yang menerpa wajahnya ...
Di menara ...
Tingginya dagumu, mencekat, pita suara,
Suku kata tajam, lepaskan, tiap genggaman,
Satu persatu meninggalkan mu dengan sempurna,
Di Menara ...
Di Menara ...
Sendirian, tak berkawan
Hanya angin yang menerpa wajahnya ...
Di Menara ...
-----------------------------------------------------------------------
Sebenarnya, bila menyimak tulisan sebelumnya, saya ingin (sekali) melanjutkan tulisan ihwal "Semarang Jilid 1" menuju "Semarang Jilid 2". Apa daya, tekad kuat untuk menulis senantiasa terhalang oleh
Jadi, seperti lirik lagu yang sudah saya
-----------------------------------------------------------------------
Omong-omong sebelumnya, sama seperti Desmond, band kesukaan saya adalah The Upstairs.
(Di suatu taman)
Omm Leo : "Desmond, apakah band kesukaan kamu?"
Desmond : (Mendongak ke atas, menatap langit) "The Upstairs ... !!!"
(Kemudian ingatan (atau bayang-bayang?) Desmond mengarah pada suatu ruang di Ruangrupa (lama, di gedung 2).
The Upstairs memang band yang istimewa. Kala The Upstairs disetel (entah dimanapun, lebih sering di laptop saya, sudah sangat jarang disetel di radio tentunya) ingatan saya selalu melayang pada scene-scene Pensi (Pentas Seni. Apakah istilah yang dipakai oleh muda-mudi untuk menyebut gig ala-ala anak SMP-SMA masih Pensi? Entahlah ...) yang diselenggarakan oleh anak-anak SMP maupun SMA. Untuk saya? Sepertinya The Upstairs dahulu pernah manggung di Pensi yang diselenggarakan oleh SMA Labschool Kebayoran (populer disebut sebagai SMA Labsky), hmmmm atau sepertinya pernah manggung di panggung yang lebih besar lagi (Java Jazz?? Entah, saya benar-benar lupa untuk yang ini).
Ya, Pensi, selalu ada kenangan tersendiri. Bagaimana muda-mudi asyik moshing (tindakan saling menabrakkan tubuh antar sesama konco), terutama bagi kita-kita yang tumbuh di masa pensi benar-benar hits-hits nya.
(ini definisi saya sendiri, sebenarnya, mungkin mengacu di era 2004-2010, sebelum tayangan serupa "Dahsyat" atau "Inbox" mewabah, atau mungkin sebelum era musik digital seperti sekarang. Ya kali ya? Secara, di ajang Pensi, biasanya, pasti selalu malahan, bahwa band-band akan membuka stand mereka, berjualan merchandise, kaset, atau cakram digital. Ngomong-ngomong, tulisan di dalam kurung ini panjang ya? Saya jadikan paragraf baru saja).
Bicara Pensi, ya, rupanya tidak hanya saya yang sepakat bahwa ingatan Pensi selalu lekat dengan The Upstairs. Rekan satu kantor saya (yang seusia dengan saya) juga mengungkapkan hal yang serupa.
"Hah Dot, jaman sekarang masih dengerin The Upstairs? Jaman Pensi-Pensi banget sih elu. Moshing-moshing gimana gitu."
Nah, kan? Mungkin, memang masa-masa kejayaan (atau produktif?) The Upstairs adalah di "Zaman Pensi" itu kali ya? Entahlah, tetapi selain itu, memang aksi-aksi panggung The Upstairs, kalau saya ingat-ingat, memang sangat atraktif. Atraktif tidak sekedar urakan, atau tidak sekedar asik-asikan saja gayanya. Coba anda simak video klip berikut.
(Sejatinya, seharusnya, video klip ini diletakkan berdekatan dengan dialog percakapan antara Om Leo dengan Desmond ya? Hahaha, tidak apalah).
Oh! Ada satu lagi pembeda, mengenai gaya "Atraktif" yang saya maksud.Tidakkah anda dapat lihat, bahwa mereka ini bergaya dengan "Seimbang"? Maksud saya, perhatikan Jimi Multazam, gayanya "Pas", persis seperti selaiknya kita menikmati musik di kost-kostan kala kuliah. Perhatikan juga gaya rekan-rekan di sampingnya. Bang bassist Alfi Chaniago (sudah hijrah ke jalan yang baik sekarang, good bang! Semoga istiqomah di jalan dakwah!) yang yahud, ikut bergoyang tetapi sewajarnya, boleh lah. Bang Adre Kubil, tetap cool, demikian juga diikuti yang lain, supaya hot + hot + cool + cool + cool = hangat. Mantap kali.
(Oh, ya, lihat bang drummer di belakang? Iya, gaya beliau juga asyik-asyik proporsional. Kini, bang Beni Adhiantoro pun sudah turut meninggalkan The Upstairs, hijrah menuju jalan yang baik juga, goodluck too!).
-----------------------------------------------------------------------
Cukup dengan sedikit intermezzo perihal The Upstairs itu sendiri.
Pernahkah anda merasa kadang, anda berada di atas, terlalu di atas malahan? Sehingga, seperti semua yang ada di sekeliling anda adalah hampa. Fenomena itulah, yang sepertinya diulas dalam "Menara Lara". Tidak, itu semua (mungkin) bukan salah anda.
Bagaimana karir anda demikian gemilangnya, prestasi anda luar biasa, beragam inovasi anda unjukkan. Atasan sangat menyenangi apa yang anda kerjakan, dan apa yang anda ajukan di luar pekerjaan anda yang semestinya. Rekan-rekan anda menyanjungi anda, melihat anda adalah anak muda yang (sangat) berbakat. Terlebih, tidak seperti stigma ihwal "Karyawan Teladan", anda tidak pernah (atau jarang) melaksanakan ibadah overtime alias lembur. Manajemen waktu anda (nyaris) sempurna. Setiap momen di media sosial selalu menunjukkan anda bersama teman-teman anda, atau keluarga anda.
Sepertinya, hidup yang sempurna, anda pun tidak pernah punya masalah personal dengan sesama rekan anda. Tingkah laku anda hampir tanpa cela.
(Sebelum saya lanjutkan, mungkin gambaran yang ada di benak saya ini sedikit berbeda dengan apa yang dituliskan oleh lagu. Tidak ada kata-kata tajam yang melesak dari pita suara, tidak juga tidak ada dagu yang terangkat. Tetapi demikianlah tafsir hati saya terhadap lagu ini ...)
Justru, di kala itulah, di kala anda benar-benar di atas dataran puncak (ya, tidak hanya sekedar puncak "Yang lancip", melainkan kondisi anda benar-benar di puncak dan berlangsung dengan cukup lama), di tengah kekosongan dataran tersebut, anda menemui sebuah kerikil, dan anda tersandung. Jangan khawatir, tidak jatuh dari dataaran, hanya anda terjatuh, ya sedikit sakit, walau beralaskan rumput-rumput.
Anda terjatuh. Sementara, tetapi anda memutuskan untuk berbaring, karena di atas padang puncak yang luas itu, anda benar-benar sendirian. Sinar yang menerangi plain plane itu, hanyalah bersumber dari kegemilangan anda, tidak ada sama sekali sinar yang melesak dari rekan-rekan anda. Hanya anda, dengan kesuksesan anda yang luar biasa kokoh.
Anda lelah, entah mengapa merasa sangat lelah. Mendekati kesempurnaan, semakin mendekati diri yang tanpa cela, semakin berat terasa, dan semakin sendiri anda merasa.
Gemilang harusnya dirimu yang kesepian
Bagaikan mahkota anugrah mu menjauhkan
setiap raga penuh sesal di dekat sinarnya
Inilah anda. Apa yang anda capai, rupanya diam-diam menciptakan jarak antara anda dengan rekan anda. Kegemilangan itu, yang sudah seperti bulu rambut di kulit anda, rupanya menyilaukan setiap raga di dekat anda. Ada sedikit sesal pada diri mereka.
"Coba ya, saya bisa memiliki hidup seperti kamu, kerja dan kehidupan seimbang. Pulang tepat waktu, di memiliki anak istri (saya menggambarkan karakter "Kamu" ini sebagai lelaki, btw) yang menyayangimu, dan kamu pun tak pernah alpa mencurahkannya juga. Teman-teman yang baik, kepribadian yang menyenangkan, sukseslah."
Anda merasa sedih, akhirnya, anda sadar, bahwa anda tidak bisa turut membagi kesuksesan anda kepada orang lain. Anda juga merasa lelah, karena anda menjadi pribadi yang mereka anggap tanpa cela. Mereka tidak mau tahu menahu tentang beragam pikiran yang (mungkin) sedang terjadi pada dalam diri anda, dan seperti efek bola salju yang bergulir dari atas ke bawah (saya tidak pernah melihatnya, btw, haha, hanya dari kartun), apa yang mereka idamkan pada anda, akhirnya membebani pikiran anda.
Hal yang pada awalnya anda lakukan "Karena memang seperti itu", perlahan mulai menjadi "Harus terus anda jaga dan anda poles terus-menerus.". Anda mulai terbebani untuk "Menjaga pencapaian sebelumnya agar tetap lanjut", dan "Menjaga keseimbangan hidup seperti yang mereka pikirkan.".
Good thing is, anda masih belum burnout untuk melakukan itu semua, walau anda sudah menyadarinya. Yet still, it's tiring.
Hingga akhirnya diri anda berbaring, lelah, dan beristirahat, memikirkan sejenak tentang apa yang sudah terjadi. Yah, yang kira-kira persis sama seperti gambaran saya akan lagu "Menara Lara" ini. Perlahan-lahan, anda menuliskan daftar-daftar kegusaran anda, yang mungkin bila orang lain ketahui, akan membuat mereka mengernyitkan alis mata "Kok lu bingungin hal yang kayak gini, sih?". Yah memang, semakin tinggi derajat kebaikkan kita, bila memang di jalan yang benar, semestinya membuat kita semakin berpikir. Allah juga selalu menyandingkan kata-kata (atau sifat-sifat) "Keimanan" (atau "Ketaqwaan") terhadap kata-kata "Bagi mereka yang mau berpikir.". Entah siapa yang datang lebih dahulu, apakah "Berpikir (lebih, more effort to)", ataukah "Keimanan" / "Ketakwaan".
Regardless ... here's the short-list :
Apakah saya manusia? Mengapa semua kesuksesan ini datang, dan terjadi begitu saja? Maksud saya, mengapa kita tidak bisa menyadari segala upaya dan amalan yang kita lakukan, hingga akhirnya mengantarkan kita kepada puncak-puncak ini? Mengapa saya jarang gagal? Bagaimana kelak saya menyikapi kegagalan bila akhirnya saya mengalami kegagalan? Apakah rasanya terjatuh sakit itu?
Pada titik ini, pada pertama anda membuat daftar ini, anda akhirnya menyadari, bahwa seberat-beratnya ujian sungguh bukanlah musibah, melainkan rezeki. Kemudian, sebaik-baiknya hidayah yang datang adalah tidak hanya yang datang "Menyadari" di kala keterpurukan, melainkan yang datang "Menyadari" di antara kesuksesan. Maksud saya, tidak seperti setelah anda sukses lalu datang musibah, sehingga anda menyadari akan "Hidayah" tersebut, tetapi di kala kehidupan normal anda (dan anda tahu (hampir) pasti bahwa keesokkan harinya anda akan tetap normal sediakala) sedang berlangsung, anda mendapat "Hidayah" ini.
Mungkin persis seperti gambaran saya akan The Upstairs kala menciptakan lagu "Menara Lara" ini. Sosok yang ditengah kesuksesan, tetapi entah bagaimana menyadari ada sesuatu yang menjauhkan dirinya dengan orang lain. Bukan disebabkan karena sifat negatif dari diri "Si Menara Lara" ini, tetapi dikarenakan "Idolisasi" orang lain akan "Si Menara Lara" ini, sehingga demikian sungguh terasa lara bagi dirinya.
Lalu, .....
Anda merasa bahwa, tidak, tidak, anda harus terus menjadi manusia, tetapi bukan sembarang manusia, melainkan manusia yang sekuat mungkin tidak mudah terpengaruh oleh sesama manusia. Manusia memang makhluk sosial, tetapi sesuatu yang berlebihan tidak baik, demikian juga dalam kata "Sosial" ini. Kita tidak akan dapat hidup tanpa orang lain, tetapi agaknya kita juga tidak bisa hidup dengan baik bila pada akhirnya senantiasa terus-menerus menghidupkan radar sosial kita. Ya, seperti "Si Menara Lara", berbuat baik dan menjaga hidup yang seimbang mungkin memang suatu hal yang sudah default ada pada dirinya sendiri.
Tetapi, mungkin pesan saya (atau setidaknya pesan The Upstairs yang saya tangkap), sedikit simpangan dari kebaikkan mungkin anda butuhkan. Tidak, saya sama sekali tidak menganjurkan anda, wahai orang baik, untuk berbuat dosa (dosa adalah dosa, tetap saja). Atau bagi anda yang kurang cocok dengan istilah dosa, ya, sama saja, saya tidak menganjurkan anda berbuat jahat.
Tetapi berbuatlah "Tidak".
Sedikit "Tidak" barang satu-dua kali, atau sedikit "Besok saja tidak apa, ya?". Dalam kesempurnaan pada ketidaksempurnaan manusia, tetap saja sesama manusia memiliki penilaian "100 %" terhadap kesempurnaan itu. Mungkin ya, mungkin, ini saya juga baru terpikir (pada detik menulis ini), pesan saya terhadap "Si Menara Lara" yang "100 % Sempurna di mata manusia" adalah "Bagaimana menjaga ekspektasi terhadap sesama", atau bahkan "Bagaimana menurunkan ekspektasi orang lain terhadap diri saya, barang sedikit.".
Ya, sebab, toh, kita tidak bisa mengandalkan orang lain untuk senantiasa berekspektasi proporsional terhadap diri kita, bukan? Demikian juga anda, wahai "Menara Lara". Pada akhirnya, toh, anda menyadari itu kala berbaring akibat tersandung kerikil kecil yang sudah saya katakan tadi, bukan?
Too much expectation will kill you, not only from yourself, but also from other people.
Di
Selamat berakhir pekan.

Comments
Post a Comment